Haul Syekh Baing Yusuf: Menyambung Sejarah, Meneguhkan Ukhuwah

|

GUGAH – Suasana penuh kekhusyukan, keagamaan, dan kehangatan persaudaraan menyelimuti Masjid Agung sekaligus Maqbarah Syekh Baing Rd. Muhammad Yusuf bin Rd. Djayanegara, yang dikenal luas sebagai Syekh Baing Yusuf, di Kaum, Komplek Pemkab Purwakarta, pada Sabtu malam (1/8/2026).

Sekitar 250 jamaah dari berbagai penjuru Kabupaten Purwakarta berkumpul untuk melaksanakan Tawasul dan Dzikir Akbar dalam rangka peringatan Haul beliau yang ke-172.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Idharah JATMAN Syu’biyah Kabupaten Purwakarta, menjadi bukti hidup bahwa penghormatan kepada para leluhur saleh bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan sumber kekuatan dan cahaya bagi masa depan.

Jamaah yang hadir mewakili pengurus JATMAN Ghusniyah dari berbagai kecamatan: Bojong, Wanayasa, Plered, Campaka, Pasawahan, Babakan Cikao, Sukasari, Cibatu, dan wilayah lainnya. Hadir pula jajaran pimpinan Idharah JATMAN Syu’biyah Kabupaten Purwakarta: Kyai Zaeni Rafli Al Jauhari Citapen selaku Rois, Dr. Asep Kurnia selaku Katib, KH. Ahmad, S.T. selaku Mudir, serta Yusuf selaku Sekretaris.

Kehadiran para pemimpin umat dan pejabat daerah semakin menegaskan makna kebersamaan: Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Purwakarta KH. Endang Abdul Somad, Dr. Ramlan Maulana, M.Pd. (Wakil Tanfidziyah PCNU Kabupaten Purwakarta), para ulama, masyayikh, dzuriyah/keturunan Syekh Baing Yusuf, tokoh masyarakat, serta Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta Ir. Sri Jaya Midan, M.P. yang mewakili Bupati Purwakarta. Kehadiran ini menjadi tanda bahwa penghormatan terhadap ulama adalah penghormatan terhadap akar dan jati diri bangsa.

Baca Juga:  Hadir untuk Perkuat Ketahanan Keluarga, GOW Purwakarta Siapkan Perempuan Lebih Mandiri dan Produktif

Dalam sambutannya, KH. Ahmad, S.T., Mudir Idharah JATMAN Syu’biyah Kabupaten Purwakarta, menegaskan makna terdalam dari peringatan haul ini:

“Peringatan Haul Syekh Baing Yusuf bukanlah sekadar tradisi tahunan yang berulang tanpa makna. Ini adalah bagian dari ikhtiar besar untuk mengangkat kembali sejarah dan perjuangan seorang ulama besar Purwakarta yang telah meletakkan fondasi keislaman di tanah ini.”

Sejak tahun 2018, JATMAN Kabupaten Purwakarta bergerak bersama para pakar sejarah, akademisi, dzuriyah keluarga, dan tokoh agama dalam menelusuri, mendokumentasikan, serta memperkenalkan kembali sosok dan perjuangan Syekh Baing Yusuf kepada masyarakat luas. Upaya ini bukan sekadar menggali masa lalu, melainkan menyambung sanad keilmuan dan spiritual yang sering kali terlupakan.

Baca Juga:  GP Ansor Purwakarta Apresiasi Penghargaan Presiden untuk IPTU Abah Budiman

“Kita tidak mengenang beliau hanya untuk menangisi kepergian, melainkan untuk meneladani jejak perjuangannya. Haul ini menjadi media edukasi sejarah Islam lokal, penguatan ukhuwah, serta peneguhan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah bagi generasi penerus,” ujarnya.

Sementara, Dr. Ramlan Maulana, M.Pd. menyampaikan uraian manakib Syekh Baing Yusuf, menguraikan perjalanan dakwah, keluhuran akhlak, serta silsilah nasab beliau berdasarkan sumber sejarah yang terpercaya dan keterangan dzuriyah keluarga.

“Membaca manakib para ulama sejati ibarat membaca peta jalan keselamatan. Kita tidak hanya mengetahui nama besar beliau, tetapi memahami bagaimana beliau hidup, berjuang, mendidik, dan menanamkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat Purwakarta. Itulah warisan sejati yang tidak boleh putus ditelan zaman,” kata Doktor Ramlan.

Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Ir. Sri Jaya Midan, M.P., menyampaikan apresiasi mendalam atas kesetiaan dan konsistensi JATMAN, dzuriyah keluarga, serta Nahdlatul Ulama dalam merawat sejarah para ulama daerah:

“Warisan para ulama bukan milik kelompok tertentu semata. Ia adalah kekayaan bersama, identitas daerah, dan fondasi moral masyarakat Purwakarta. Sejarah yang hidup akan melahirkan generasi yang berakar dan berbudaya, berilmu dan berakhlak,” ujarnya.

Baca Juga:  Standardisasi Pemandu Wisata di Wonosobo Perkuat SDM Pariwisata Berbasis Kolaborasi

Kegiatan berjalan dengan khidmat: dimulai dengan tawasul, berlanjut dengan dzikir akbar, doa bersama, penyampaian manakib, hingga ditutup silaturahmi. Ratusan jamaah tampak tenang, seolah hadir bukan sekadar untuk melihat, melainkan untuk menyatu dalam niat kebaikan.

Peringatan Haul Syekh Baing Yusuf ke-172 ini kembali menegaskan satu kebenaran yang abadi: tradisi haul bukan sekadar mengenang tokoh yang telah tiada, melainkan ruang untuk menyambung sanad spiritual, memperkuat persaudaraan, merawat memori sejarah Islam lokal, dan meneladani perjuangan para ulama dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, serta berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Melalui sinergi yang kokoh antara JATMAN, Nahdlatul Ulama, dzuriyah keluarga, akademisi, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah, cahaya perjuangan Syekh Baing Rd. Muhammad Yusuf terus dinyalakan, tidak hanya di atas makamnya, tetapi di dalam hati setiap generasi yang mencintai ilmu, kebenaran, dan tanah air.

“Sanad keilmuan Islam Nusantara tidak putus di masa lalu, melainkan diteruskan oleh tangan-tangan saleh di masa kini.”*

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran