GUGAH – Ancaman kekeringan di Kabupaten Purwakarta diperkirakan belum mencapai puncaknya. Di tengah ribuan warga yang sudah mengalami krisis air bersih, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga terus meningkat seiring prakiraan musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purwakarta hingga akhir Juli 2026 mencatat sebanyak 5.617 kepala keluarga atau 19.171 jiwa di delapan kecamatan telah terdampak krisis air bersih. Angka tersebut berpotensi bertambah setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan di Purwakarta pada Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah dengan sifat hujan di bawah normal, berkisar 0–30 persen.
Permintaan bantuan air bersih terus berdatangan dari berbagai wilayah. Sejumlah pemerintah desa melaporkan sumber air warga mulai mengering sehingga membutuhkan suplai air bersih. Permohonan tersebut berasal antara lain dari Desa Batutumpang di Kecamatan Tegalwaru, Desa Taringgul Tonggoh di Kecamatan Wanayasa, Desa Mulyamekar di Kecamatan Babakancikao, hingga Kecamatan Pondoksalam.
Merespons kondisi tersebut, BPBD bersama sejumlah instansi telah menyalurkan 189.000 liter air bersih melalui 46 kali distribusi ke 35 titik terdampak hingga 30 Juli 2026.
Meski demikian, data distribusi menunjukkan kebutuhan air di setiap wilayah belum sama. Kecamatan Tegalwaru menjadi penerima pasokan terbesar dengan sekitar 100.000 liter, sedangkan Kecamatan Bojong dan Wanayasa masing-masing menerima sekitar 7.000 liter. Perbedaan distribusi ini mencerminkan tingkat kebutuhan yang berbeda di setiap daerah, sekaligus menunjukkan masih besarnya tantangan pemerintah dalam menjangkau seluruh wilayah terdampak.
Di sisi lain, ancaman karhutla juga meningkat selama musim kemarau. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Purwakarta mencatat 37 kejadian karhutla di 11 kecamatan hingga 27 Juli 2026.
Kecamatan Bungursari menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni sembilan kasus, disusul Babakancikao sebanyak enam kejadian. Kebakaran didominasi lahan kering, semak belukar, dan area terbuka yang mudah terbakar akibat suhu panas serta minimnya curah hujan.
Berdasarkan hasil evaluasi pemerintah daerah, sebagian besar kejadian dipicu aktivitas manusia, mulai dari pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan cara dibakar, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan. Kondisi cuaca panas disertai angin mempercepat penyebaran api sehingga meningkatkan risiko kebakaran meluas.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta telah menetapkan langkah antisipasi melalui Surat Keputusan Bupati dan Surat Edaran Sekretaris Daerah. Distribusi air bersih dilakukan secara kolaboratif bersama PDAM, PT PLN Nusantara Power, PT Besland Pertiwi, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Perum Jasa Tirta II, serta sejumlah pihak lainnya.
Dengan prakiraan puncak kemarau masih berlangsung hingga September, pemerintah daerah menghadapi tantangan untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat sekaligus memperkuat upaya pencegahan karhutla. Efektivitas distribusi bantuan, penghematan penggunaan air, dan peningkatan pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran akan menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak musim kemarau tahun ini.***



Tinggalkan Balasan