GUGAH – Sebanyak 205.567 warga di 15 kabupaten/kota di Jawa Barat terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau yang berlangsung sejak awal Juli 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat dampak kekeringan telah menjangkau 194 desa di 89 kecamatan, dengan tiga wilayah paling terdampak berada di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Karawang.
Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, mengatakan kondisi kekeringan pada tahun ini lebih parah dibandingkan tahun sebelumnya karena dipengaruhi fenomena El Nino.
“Tahun ini ada El Nino membuat kemarau lebih kering,” kata Hadi Rahmat melalui keterangan persnya, Rabu, 29 Juli 2026.
Menurut dia, kondisi kekeringan saat ini memiliki kemiripan dengan kejadian pada 2023. Saat itu El Nino juga memicu penurunan ketersediaan air di berbagai daerah.
Selain faktor cuaca, peningkatan jumlah penduduk juga turut memperbesar dampak kekeringan. Kebutuhan air bersih terus meningkat, sementara ketersediaannya terbatas.
“Pertumbuhan jumlah penduduk itu juga berpengaruh pada kebutuhan air. Kebutuhan air meningkat, sementara ketersediaannya mungkin terbatas sehingga dampaknya juga bisa jadi meluas,” ujarnya.
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mendistribusikan sedikitnya 4.013.500 liter air bersih ke berbagai wilayah terdampak.
Di Kabupaten Bogor, kekeringan terjadi di 24 kecamatan dan 87 desa/kelurahan dengan total 100.830 warga terdampak. Pemerintah Kabupaten Bogor bersama BPBD setempat telah menyalurkan 802.500 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Kabupaten Karawang mencatat krisis air bersih melanda sembilan desa di empat kecamatan dengan sekitar 12 ribu warga terdampak. BPBD Kabupaten Karawang bersama PMI dan Baznas telah mendistribusikan lebih dari 237.000 liter air bersih.
Adapun di Kabupaten Bekasi, kekeringan berdampak pada enam desa di tiga kecamatan. BPBD Kabupaten Bekasi telah menyalurkan bantuan air bersih ke 26 titik lokasi yang mengalami krisis air sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama musim kemarau.***



Tinggalkan Balasan