GUGAH – Kiprah membangun pendidikan dari tingkat desa mengantarkan Jaelan Soheh, Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, meraih Juara I Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026. Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas dedikasinya mengembangkan model pendidikan berbasis komunitas yang telah dijalankan secara konsisten sejak 2020.
Penetapan itu tertuang dalam Surat Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Barat Nomor 2761/KO.03.01/Bidyanmud tertanggal 20 Juli 2026 tentang Pemberitahuan Juara Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026. Dalam surat tersebut, Jaelan Soheh yang mewakili Kabupaten Sumedang ditetapkan sebagai Juara I Bidang Pendidikan. Posisi kedua diraih Anwar Syapei dari Kabupaten Sukabumi, sedangkan Juara III diraih Maghfira Izzani M. Wijaya dari Kabupaten Bekasi.
Prestasi tersebut tidak diraih secara instan. Selama beberapa tahun terakhir, Jaelan aktif membangun ekosistem pendidikan berbasis masyarakat melalui Kelompok Literasi Seni, komunitas yang didirikannya pada 2020 sebagai wadah kolaborasi gerakan literasi, pendidikan, kepemudaan, dan pemberdayaan masyarakat di Kecamatan Cisarua.
Dari komunitas tersebut lahir beragam inovasi pendidikan, mulai dari Rumah Baca Damar Manggala, perpustakaan komunitas, program bimbingan belajar gratis, hingga kedai kopi yang disulap menjadi ruang diskusi, belajar, dan pengembangan kapasitas generasi muda.
Komitmennya memperluas akses pendidikan juga diwujudkan melalui kemitraan dengan PKBM Aksara Sejahtera di bawah naungan Yayasan Cakra Arashbuana. Melalui kolaborasi ini, masyarakat memperoleh akses pendidikan nonformal yang lebih luas sehingga kesempatan belajar tidak lagi terbatas pada jalur pendidikan formal.
Bagi Jaelan, pendidikan harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, ia juga mengembangkan berbagai program berbasis potensi lokal, seperti budidaya ikan nila sistem bioflok dan pengelolaan lahan pertanian produktif. Program-program tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan warga, tetapi juga menjadi laboratorium pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik kehidupan sehari-hari.
Inovasi lainnya diwujudkan melalui Pesantren Literasi Nusantara, sebuah ruang inkubasi kepemudaan yang mengintegrasikan tradisi keilmuan pesantren dengan wawasan kontemporer. Melalui program ini, generasi muda didorong memiliki kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Dalam ajang Pemuda Pelopor Tingkat Provinsi Jawa Barat 2026, Jaelan mengusung inovasi bertajuk “Membangun Ruang Belajar Inklusif Berbasis Komunitas”. Gagasan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara masyarakat, komunitas, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.
Sebagai pijakan gerakan, Jaelan bersama Kelompok Literasi Seni menyusun Kurikulum Opat Harupat (Empat Values) yang menitikberatkan pada empat nilai utama, yakni Moral, Intelektual, Mandiri, dan Karya. Keempat nilai tersebut diterapkan dalam seluruh program pembinaan guna melahirkan generasi muda yang berkarakter, cerdas, mandiri, dan produktif.
Sebelum meraih gelar terbaik di tingkat provinsi, Jaelan harus melalui rangkaian seleksi yang ketat, mulai dari tingkat kecamatan, terpilih sebagai Pemuda Pelopor Kabupaten Sumedang, hingga mewakili daerah pada tingkat Provinsi Jawa Barat. Proses penilaian mencakup seleksi administrasi, verifikasi lapangan, presentasi inovasi, serta wawancara bersama tim juri.
Bagi Jaelan, penghargaan tersebut bukanlah pencapaian individu, melainkan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat yang selama ini terlibat dalam membangun ruang-ruang belajar di Cisarua.
“Penghargaan ini bukan milik saya seorang, tetapi milik seluruh teman-teman yang selama ini bergerak bersama. Kami hanya ingin membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari desa, dari komunitas, dan dari semangat gotong royong. Selama masih ada kepedulian, akan selalu ada ruang belajar yang bisa dibangun untuk masa depan masyarakat,” ujar Jaelan.
Ke depan, Jaelan berharap model pendidikan berbasis komunitas yang lahir dari Kecamatan Cisarua dapat direplikasi di berbagai daerah di Jawa Barat. Ia berkomitmen terus memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu melahirkan generasi muda yang berdaya saing, berkarakter, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sosialnya.***



Tinggalkan Balasan