Gemborkan Jihad Digital, MUI Soroti Ngaji di AI: Butuh Sanad

|

GUGAH – Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru-baru ini tengah mengkaji persoalan maraknya umat Islam yang belajar agama atau Ngaji menggunakan aplikasi Kecerdasaan Buatan (AI).

Ativitas tersebut menurut MUI sangat berbahaya jika hanya mengandalkan AI sebagai rujukan utama dalam belajar agama.

Hal itu diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum MUI, Muhammad Cholil Nafis. Menurut dia, ngaji itu harus dari sumber yang absah.

Ia menjelaskan, bukan tidak boleh apabila masyarakat menggunakan AI untuk sekedar mencari inspirasi atau mencari pengetahuan awal.

Namun, kata dia, ketika mempelajari ilmu agama lebih lanjut harus harus bersandar pada sumber yang jelas dan harus memiliki guru.

Baca Juga:  Launching Monitoring dan Evaluasi Komisi Informasi Jawa Barat 2026

“Belajar agama itu butuh transmisi keilmuan yang disebut dengan sanad,” kata Cholis saat hadir di acara Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 di Jakarta, Jumatn (24/7/2026).

“Ada yang menjamin bahwa itu benar, orisinal, dan valid. Sementara dari media (AI) itu sering kita lihat mungkin sebagian benar, tapi sebagian salah,” katanya menambahkan.

MUI secara tegas kata Cholil, menginatkan kepada masyarakat dalam membatasi penggunaan AI yang bertujuan untuk mencari ilmu agama.

Baca Juga:  Sekolah Swasta di Purwakarta Kehilangan Murid, Ada yang Hanya Dapat Lima Siswa Baru

Ia juga menekankan bahwa mesin cerdas tidak akan pernah bisa menggantikan posisi dan keteladanan seorang ulama.

“Berguru harus kepada orang, kepada ulama, kepada ustadz yang memang mumpuni dan memang menjadi teladan. Tidak bisa berguru hanya kepada mesin,” ujar Cholil Nafis.

Menyambung keprihatinan yang sama, Ketua Umum MUI Anwar Iskandar mengakui bahwa kehidupan umat saat ini, dari berbagai profesi dan kalangan, sudah tidak mungkin lagi dilepaskan dari arus digitalisasi.

Anwar menilai pesatnya perkembangan teknologi membawa manfaat yang sangat besar, namun mudarat atau bahaya yang mengikutinya juga tidak kalah luar biasa. Guna membendung dampak negatif tersebut, ia mendorong agar umat tidak pasif dan mulai membanjiri ruang-ruang siber dengan pesan-pesan moral.

Baca Juga:  PC GP Ansor Indramayu Sambangi MUI, Dorong Sikap Resmi Terkait Dugaan Ajaran Desi

“Kita ingin agar digitalisasi di negara ini, sebesar-besarnya akan kita isi dengan dakwah untuk membangun bangsa yang sebaik-baiknya,” ucap dia.

Untuk merealisasikan misi dakwah siber tersebut, Anwar membeberkan bahwa MUI juga telah menjalin kerja sama strategis dengan pihak akademisi, salah satunya Universitas Indonesia (UI).

“Terutama AI yang menjadi kebutuhan ke depan, akan kita isi dengan dakwah yang bermartabat,” tutur Anwar Iskandar.***

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran