IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas di Tengah Aksi Jual Asing dan Sorotan Kondisi Fiskal Indonesia

|

GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak terbatas atau terkonsolidasi pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Pergerakan pasar dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global, mulai dari aksi jual investor asing, proyeksi fiskal Indonesia, hingga perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok.

Pada penutupan perdagangan Selasa (14/7/2026), IHSG menguat tipis 0,03 persen ke level 6.039. Meski indeks berhasil ditutup di zona hijau, tekanan dari investor asing masih cukup besar.

Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp885,58 miliar di pasar saham domestik.

Tekanan jual paling banyak terjadi pada saham-saham sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBCA. Sementara dari sektor nonkeuangan, saham ASII dan AMMN juga menjadi sasaran pelepasan investor asing.

Baca Juga:  IHSG Bergairah di Zona Hijau Jeda Siang

“Dari sisi teknikal, IHSG berpeluang terkonsolidasi pada rentang level 5.950-6.125,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas. Para investor masih mencermati sejumlah isu di dalam negeri, seperti kajian S&P tentang kondisi fiskal Indonesia.

Lembaga pemeringkat internasional S&P memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia berada di level 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026 dan 2027.

“S&P memproyeksikan defisit APBN mencapai 2,9 persen terhadap PDB pada 2026 dan 2027,” Tim Phintraco. Sedangkan rasio utang pemerintah diperkirakan berada pada level 40,6 persen dari PDB pada 2026.

Pada 2027, rasio utang pemerintah diperkirakan kembali meningkat menjadi 40,7 persen terhadap PDB. Selain itu, S&P memperkirakan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi disesuaikan dari sekitar Rp300 triliun menjadi sekitar Rp100 triliun.

Baca Juga:  BREAKING NEWS: Saham FORU Disuspensi BEI Usai Melonjak Hampir 99%

Penyesuaian tersebut diperkirakan dilakukan melalui perubahan parameter program, peningkatan efisiensi, serta penguatan pengawasan anggaran.

“S&P menilai hal tersebut diperlukan untuk menjaga defisit APBN di bawah 3 persen,” katanya.

Selain faktor fiskal, pelaku pasar juga menyoroti kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penetapan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Share Concentration (HSC).

“BEI akan menyaring saham-saham yang mengalami perubahan harga secara signifikan, tetapi tidak didukung aktivitas transaksi yang memadai,” katanya.

Kebijakan tersebut dinilai bertujuan meningkatkan transparansi perdagangan sekaligus memperkuat perlindungan bagi investor dari potensi pergerakan harga yang tidak wajar.

Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada perkembangan inflasi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan AS pada Juni 2026 turun menjadi 3,5 persen dari 4,2 persen pada bulan sebelumnya. Sementara inflasi inti melambat menjadi 2,6 persen dibandingkan 2,9 persen pada Mei 2026.

Baca Juga:  Pakar Prediksi Rupiah Bisa Tembus Rp20.000 per Dolar AS Akhir Juni

Perlambatan inflasi tersebut meningkatkan harapan bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana penerapan biaya perlindungan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Kebijakan itu turut menjadi perhatian pelaku pasar karena berkaitan dengan stabilitas jalur perdagangan energi dunia.

Selanjutnya, investor juga menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang diperkirakan akan menjadi salah satu sentimen penting bagi pergerakan pasar keuangan regional, termasuk Indonesia.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran