GUGAH – Komunitas Stonheng sukses menggelar festival kolaboratif tahunan bertajuk STONFEST 2026. Mengusung tema yang sarat makna, “1 Manusia, 3 Generasi”, perhelatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada Rabu–Kamis, 8–9 Juli 2026, bertempat di Villa Rumah Nenek, Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Acara ini dirancang khusus sebagai ruang perjumpaan inklusif yang menyasar Generasi X, Generasi Y (Milenial), dan Generasi Z. Melalui kehadiran para pelajar, mahasiswa, pemuda, hingga masyarakat umum, STONFEST 2026 berhasil memecah kekakuan dan membangun jembatan komunikasi antargenerasi yang kerap kali terhambat oleh dinamika zaman.
Selama dua hari penuh, para peserta disuguhkan berbagai rangkaian kegiatan yang variatif dan interaktif. Mulai dari talkshow lintas generasi, diskusi interaktif, hingga sharing session yang mendalam. Tidak hanya mengedepankan aspek edukasi dan pemahaman kealaman, festival ini juga dikemas hangat melalui permainan kebersamaan (team building), refleksi malam, pertunjukan kesenian, hiburan, serta kegiatan penguatan internal komunitas.
Ketua Pelaksana STONFEST 2026, Bagus Baihaqi, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan acara ini.
“Alhamdulillah, STONFEST 2026 bisa berjalan dengan baik. Ini semua tidak lepas dari kerja keras seluruh panitia, dukungan mitra, narasumber, serta semangat dari teman-teman peserta. Lewat tema ‘1 Manusia, 3 Generasi’, kami ingin menghadirkan ruang yang sederhana namun bermakna ruang di mana setiap orang bisa saling mendengar, berbagi cerita, dan memahami bahwa setiap generasi punya cara pandang yang layak dihargai,” ujar Bagus.
Ia juga berharap agar esensi dari kegiatan ini terus membekas. “Semoga apa yang kita dapatkan tidak berhenti saat acara selesai. Harapan saya, STONFEST bisa terus menjadi tempat yang nyaman untuk bertemu, belajar, dan tumbuh bersama, sekaligus mengingatkan kita bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi.”
Senada dengan hal tersebut, Nadhif Muhammad Hasan selaku Founder sekaligus Penanggung Jawab Komunitas Stonheng menegaskan bahwa STONFEST merupakan sebuah manifestasi gerakan nyata dari komunitas untuk masyarakat luas.
“STONFEST bukan sekadar acara tahunan. Bagi saya, ini adalah bukti bahwa ketika orang-orang dengan latar belakang dan usia yang berbeda mau duduk, ngobrol, dan saling mendengarkan, selalu ada hal baik yang bisa lahir. Kita mungkin tumbuh di zaman yang berbeda, tapi tujuan kita tetap sama: menjadi manusia yang terus belajar dan bermanfaat bagi sekitar,” ungkap Nadhif.
Lebih lanjut, Nadhif menekankan pentingnya keberlanjutan dari ruang-ruang dialog seperti ini. “Terima kasih untuk panitia yang bekerja dengan sepenuh hati, narasumber, mitra, dan seluruh peserta. Saya berharap STONFEST menjadi awal dari lebih banyak ruang yang membuat anak muda berani berdiskusi, berkolaborasi, dan bertumbuh bersama tanpa takut dengan perbedaan. Karena pada akhirnya, perubahan yang besar selalu dimulai dari orang-orang yang mau saling memahami.”
Melalui lima tujuan utamanya termasuk menjadi wadah dialog, memetakan potensi tiap generasi, membangun solidaritas kekeluargaan, hingga menginspirasi peserta menjadi pribadi yang adaptif STONFEST 2026 telah membuktikan bahwa perbedaan usia bukanlah pembatas, melainkan aset kekayaan sosial untuk membangun harmoni di tengah masyarakat.
Komunitas Stonheng adalah sebuah wadah kepemudaan dan kemasyarakatan yang bergerak di bidang penguatan komunitas, edukasi, dan kolaborasi sosial. Melalui berbagai program kreatif dan kealaman, Komunitas Stonheng berkomitmen untuk terus melahirkan generasi yang peka terhadap isu sosial, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.*



Tinggalkan Balasan