GUGAH – Dinamika menjelang regenerasi kepemimpinan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat. Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, memberikan pernyataan reflektif sekaligus sinyal kuat terkait kelanjutan langkah politik dan khidmahnya di organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Di hadapan awak media, Gus Yahya secara terbuka mengungkapkan bahwa keputusannya untuk memimpin PBNU didasari oleh kewajiban dan hak syariat. Menariknya, ia tidak segan mengakui bahwa ada beberapa program dan janji kampanye masa lalunya yang belum tuntas akibat dinamika keadaan yang tak terduga.
”Seandainya keadaan normal, insyaallah semua yang saya janjikan itu terselesaikan sebelum Muktamar. Tapi karena ada dinamika yang di luar dugaan, maka terpaksa ada beberapa janji yang belum terlaksanakan,” ujar Gus Yahya, Minggu (12/7/2026).
Analogi Cerdas: ‘Saya Masih Berutang’
Menggunakan pendekatan fikih dan logika yang dekat dengan kultur warga Nahdliyin, Gus Yahya menganalogikan janji-janji yang belum terealisasi tersebut sebagai sebuah utang syariat. Sebagai pihak yang berutang, ia secara ksatria menyatakan perlu meminta tambahan waktu untuk melunasinya. Pernyataan ini dinilai banyak pihak sebagai isyarat kuat bahwa dirinya siap untuk kembali maju dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU periode berikutnya.
”Secara syariat, sebagai orang yang berutang, saya harus minta waktu untuk melunasi utang-utang saya, apabila diberi,” tambahnya.
Diselingi Humor Khas Pesantren
Bukan Gus Yahya namanya jika tidak menyisipkan jokes segar di tengah pembahasan yang serius. Di akhir wawancara, ia berseloroh mengenai respons jika dirinya tidak diberi kesempatan lagi untuk memimpin.
”Kalau enggak diberi waktu, berarti utang saya dianggap sudah lunas. Jadi enggak ditagih lagi di yaumul hisab, itu saja,” kelakarnya yang langsung disambut tawa oleh para tokoh di sekelilingnya dan para jurnalis.
Pernyataan diplomatis namun sarat makna ini diprediksi akan menjadi pemantik diskusi hangat di kalangan kader NU menjelang Muktamar mendatang, sekaligus menegaskan posisi Gus Yahya sebagai pemimpin yang akuntabel dan siap menuntaskan visi besarnya bagi kemandirian umat.***



Tinggalkan Balasan