GUGAH – Lagu berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejat” yang diperkenalkan Bupati Purwakarta Om Zein menuai kritik dari sejumlah kalangan. Salah satunya datang dari Pengurus Komisariat PMII Muttaqien, Muhammad Reza Abdul Rojak, yang menilai narasi dalam lagu tersebut berpotensi menimbulkan persepsi yang merendahkan perempuan.
Reza mengatakan belakangan ini banyak aktivis perempuan menyampaikan keberatan terhadap karya tersebut. Menurutnya, kontroversi muncul karena lagu itu berangkat dari pernyataan Om Zein yang mengaku bersyukur dilahirkan sebagai laki-laki, bukan perempuan.
“Kalau kemudian muncul narasi bahwa menjadi laki-laki adalah sebuah keberuntungan, pertanyaannya apakah itu berarti menjadi perempuan adalah sebuah kerugian? Di sinilah letak persoalan yang dipertanyakan banyak pihak,” ujar Reza, Selasa (7/7).
Ia menegaskan, sebagai organisasi yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), PMII memandang laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah SWT.
Reza merujuk pada pemikiran Nasaruddin Umar dalam Jurnal Pemikiran Islam tentang Pemberdayaan Perempuan (2000). Menurutnya, sejumlah ayat Al-Qur’an, di antaranya Surah Ali Imran ayat 195, An-Nisa ayat 124, An-Nahl ayat 97, At-Taubah ayat 71–72, dan Al-Ahzab ayat 35, menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjalankan keimanan, ketakwaan, dan amal saleh.
“Allah memberikan peran, tanggung jawab, serta konsekuensi yang sama kepada laki-laki dan perempuan. Yang membedakan derajat manusia di hadapan Allah bukan jenis kelaminnya, melainkan keimanan dan ketakwaannya,” katanya.
Lebih lanjut, Reza mengingatkan bahwa salah satu misi utama diutusnya Muhammad adalah menyempurnakan akhlak, termasuk mengangkat martabat perempuan yang pada masa Arab jahiliyah mengalami berbagai bentuk diskriminasi.
Ia menyebut, pada masa itu bayi perempuan bahkan dikubur hidup-hidup, perempuan tidak memiliki hak atas harta maupun warisan, dan dapat diperlakukan sebagai objek warisan ketika suaminya meninggal dunia.
“Bagi kami, Islam justru hadir untuk menghapus praktik-praktik yang merendahkan perempuan. Karena itu, kami menilai narasi yang berpotensi menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah tidak sejalan dengan semangat ajaran Islam,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Reza menilai persoalan tersebut tidak hanya menyangkut sensitivitas terhadap perempuan, tetapi juga menyentuh nilai-nilai keagamaan yang menurutnya harus dijaga dalam setiap ruang publik.***



Tinggalkan Balasan