GUGAH – Upaya menjaga kualitas lingkungan sekaligus mendorong manfaat ekonomi jangka panjang menjadi fokus kegiatan Kuliah Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (KPPM) STIE Wikara Kelompok 8 di Desa Cileunca. Melalui aksi penanaman pohon mahoni dan manggis, mahasiswa bersama Pemerintah Desa berupaya menghadirkan program yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Penanaman dilakukan di sejumlah titik di Desa Cileunca dengan melibatkan mahasiswa, pemerintah desa, dosen pembimbing, serta panitia KPPM. Jenis tanaman yang dipilih memiliki fungsi berbeda. Pohon mahoni diharapkan membantu menjaga struktur tanah, meningkatkan tutupan hijau, dan memperbaiki kualitas udara, sedangkan pohon manggis diproyeksikan menjadi aset produktif yang hasilnya dapat dimanfaatkan masyarakat pada masa mendatang.
Koordinator Desa KPPM Kelompok 8, Muhamad Falaq atau yang akrab disapa OmAyaq, mengatakan program tersebut merupakan bentuk komitmen mahasiswa untuk meninggalkan manfaat nyata selama menjalankan pengabdian di Desa Cileunca.
“Kami di Kelompok 8 ingin kehadiran kami di sini memberikan manfaat nyata yang terus tumbuh. Melalui kolaborasi erat hari ini bersama Pemdes Cileunca, Ibu Dewi selaku Ketua Panitia, dan bimbingan dari Teteh Annisa selaku DPL, kami optimistis langkah kecil ini akan membawa dampak besar bagi lingkungan dan ekonomi desa ke depan,” ujar Muhamad Falaq (OmAyaq) dalam keterangannya kepada Gugah.co, Selasa (7/7).
Ketua Panitia KPPM STIE Wikara, Ibu Dewi, menilai kolaborasi antara mahasiswa dan pemerintah desa menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaan program pengabdian. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa di tengah masyarakat harus mampu menjawab kebutuhan nyata, termasuk dalam upaya pelestarian lingkungan.
“Saya sangat bangga melihat daya juang OmAyaq dan kekompakan seluruh anggota Kelompok 8. Kolaborasi aktif mereka dengan pihak Pemdes Cileunca membuktikan bahwa mahasiswa kita mampu menjadi motor penggerak perubahan yang solutif di tengah masyarakat,” tutur Ibu Dewi.
Hal senada disampaikan Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok 8, Teteh Annisa. Ia menilai koordinasi yang terbangun antara mahasiswa dan Pemerintah Desa menjadi modal penting agar program pengabdian memiliki keberlanjutan setelah masa KPPM berakhir.
“Koordinasi yang dibangun oleh OmAyaq bersama seluruh anggota kelompok dengan Pemdes Cileunca berjalan sangat apik. Ini adalah contoh kolaborasi pengabdian yang sukses dan terarah,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, bibit pohon yang belum ditanam diserahkan secara simbolis kepada Pemerintah Desa Cileunca untuk dirawat bersama masyarakat. Langkah tersebut diharapkan memastikan program penghijauan tidak berhenti pada saat pelaksanaan KPPM, melainkan menjadi bagian dari upaya jangka panjang menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membuka potensi ekonomi desa melalui tanaman produktif.***



Tinggalkan Balasan