Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei seharusnya tidak berhenti pada seremoni simbolik, melainkan menjadi ruang refleksi kritis terhadap arah dan keberlanjutan sistem pendidikan nasional. Dalam situasi global dan nasional yang penuh tekanan baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun dinamika perubahan teknologi pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Namun demikian, justru dalam kondisi sulit inilah pendidikan harus tetap berdiri sebagai prioritas utama dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai pendiri Ikatan Mahasiswa Bojong yang berfokus pada pendidikan berkelanjutan, sekaligus perintis SMK Ansoruna Hade Rancage dan pelopor pendampingan beasiswa hingga jenjang S1, S2, dan doktoral, saya meyakini bahwa pendidikan merupakan instrumen strategis dalam membangun ketahanan sosial. Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, melainkan proses pemberdayaan yang membentuk kapasitas individu untuk bertahan, beradaptasi, dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
Secara akademis, pendidikan berkelanjutan (sustainable education) mengandung prinsip inklusivitas, keadilan akses, serta orientasi jangka panjang terhadap pembangunan manusia. Tantangan yang kita hadapi hari ini menunjukkan bahwa kesenjangan pendidikan masih menjadi persoalan nyata. Tidak semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas, terutama dalam situasi ekonomi yang tidak stabil. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berbasis komunitas yang mampu menjembatani kesenjangan tersebut.
Inisiatif-inisiatif berbasis masyarakat, termasuk gerakan mahasiswa dan lembaga pendidikan alternatif, memiliki peran penting dalam memperluas akses pendidikan. Pendampingan beasiswa, pembangunan institusi pendidikan vokasional, serta penguatan kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan merupakan langkah nyata dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Lebih jauh, pendidikan harus diposisikan sebagai investasi jangka panjang yang memberikan dampak multidimensional. Individu yang memiliki akses pendidikan yang baik cenderung memiliki mobilitas sosial yang lebih tinggi, daya saing ekonomi yang lebih kuat, serta kesadaran sosial dan politik yang lebih matang. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai alat peningkatan kesejahteraan individu, tetapi juga sebagai fondasi bagi kemajuan bangsa secara keseluruhan.
Momentum Hari Pendidikan Nasional harus dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan sektor pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang inklusif dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh kondisi saat ini, melainkan oleh sejauh mana kita mampu mempertahankan komitmen terhadap pendidikan di tengah berbagai keterbatasan. Pendidikan adalah harapan, dan menjadikannya sebagai prioritas adalah langkah paling rasional untuk memastikan keberlanjutan masa depan generasi mendatang.
Oleh: Dzikri Abazis Subekti, S.H., M.H. (Pendiri Ikatan Mahasiswa Bojong/Perintis SMK Ansoruna Hade Rancage)
Disclaimer: Artikel ini bukan Karya Jurnalistik dari Gugah.co. Suara Pinggiran merupakan wadah bagi para akademisi, aktivis atau analis yang ingin menyuarakan gagasan, opini atau pemikirannya.




Tinggalkan Balasan