IHSG Melemah di Awal Perdagangan, Investor Tunggu Penilaian MSCI dan S&P Global

|

GUGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (23/6) pagi bergerak melemah seiring sikap investor yang cenderung wait and see terhadap penilaian MSCI atas pasar saham Indonesia serta evaluasi S&P Global terhadap utang pemerintah Indonesia.

IHSG dibuka melemah 20,19 poin atau 0,33 persen ke posisi 6.096,50. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,01 poin atau 0,34 persen ke posisi 597,19.

“Jika IHSG ditutup di bawah level 6.100, maka berpeluang akan menguji level psikologis di 6.000. Namun, jika masih bertahan ditutup di atas level 6.100, diperkirakan konsolidasi IHSG masih akan berlanjut di kisaran 6.050-6.220,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dikutip dari laman Antara, Selasa (23/6).

Baca Juga:  Tekanan Pasar Keuangan Indonesia Kian Dalam, Investor Dinilai Sedang Koreksi Risiko Nasional

Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan pengumuman MSCI terkait Annual Market Classification Review yang akan dirilis pada Rabu (24/6) pagi. Hasil tersebut akan menentukan apakah pasar saham Indonesia tetap berada di kategori Emerging Market atau turun ke Frontier Market.

Selain itu, investor juga menunggu hasil review S&P Global Ratings yang dijadwalkan pada akhir Juni 2026, yang akan menetapkan peringkat atas utang pemerintah Indonesia.

Di sisi lain, pelaku pasar turut mencermati sejumlah perubahan dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK). Salah satunya terkait ketentuan yang memungkinkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, hingga Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi pemegang saham Bursa Efek Indonesia, sebagaimana diatur dalam Pasal 8B ayat (1) UU P2SK.

Selain itu, Bank Indonesia juga diwajibkan memperoleh persetujuan DPR dalam penetapan anggaran tahunan, yang mencakup anggaran kegiatan operasional serta anggaran untuk pelaksanaan kebijakan moneter, sistem pembayaran, dan kebijakan makroprudensial.

Baca Juga:  IHSG Melonjak 3,22 Persen, Saham Perbankan dan Konglomerasi Jadi Motor Penggerak

“Hal ini menimbulkan kekhawatiran investor akan masalah independensi BI sebagai bank sentral,” ujar Ratna.

Dari mancanegara, investor masih memantau perkembangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk pertempuran baru antara Israel dan Lebanon serta dinamika perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss.

Sementara itu, Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBoC) kembali mempertahankan suku bunga pinjaman acuan pada level terendah selama 13 bulan berturut-turut pada Juni 2026, yakni 3 persen untuk tenor 1 tahun dan 3,5 persen untuk tenor 5 tahun (22/6).

“Langkah ini mencerminkan kebijakan yang masih hati-hati di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah,” ujar Ratna.

Baca Juga:  Investor Bersiap Borong, Harga Emas di Pegadaian Hari Ini Anjlok Massal

Pada perdagangan sebelumnya (Senin, 22/6), bursa Eropa ditutup mayoritas menguat, dengan Euro Stoxx 50 naik 0,35 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,72 persen, dan DAX Jerman naik 0,62 persen. Sementara itu, CAC 40 Prancis justru melemah 0,25 persen.

Adapun bursa Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan terakhir, dengan Dow Jones Industrial Average menguat 0,3 persen, S&P 500 melemah 0,3 persen, dan Nasdaq Composite turun 1,3 persen.

Bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini juga bergerak bervariasi, dengan Nikkei Jepang melemah 1,15 persen ke 71.524,00, Shanghai turun 0,06 persen ke 4.160,84, Hang Seng melemah 0,96 persen ke 23.543,50, sementara Straits Times Singapura menguat 0,31 persen ke 5.220,44.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran