GUGAH – Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI meminta pemerintah memperketat penerapan syarat istitha’ah kesehatan bagi calon jemaah haji. Permintaan tersebut muncul setelah ditemukan sejumlah jemaah dengan kondisi kesehatan berisiko tinggi, termasuk penderita kanker stadium akhir, yang tetap diberangkatkan ke Tanah Suci pada musim haji 2026.
Anggota Timwas Haji DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, mengatakan secara umum penyelenggaraan ibadah haji tahun ini berjalan baik dan lancar. Meski demikian, masih terdapat sejumlah catatan penting yang perlu menjadi bahan evaluasi, khususnya terkait aspek kesehatan jemaah.
“Alhamdulillah penyelenggaraan haji bagi jemaah Indonesia berjalan lancar dan baik. Namun, ada beberapa catatan dari Timwas DPR, terutama mengenai penerapan istitha’ah kesehatan bagi jemaah haji,” ujar Netty dalam keterangannya yang dikutip dari Parlementaria, Selasa (2/6/2026).
Menurut anggota Komisi IX DPR RI tersebut, konsep istitha’ah dalam ibadah haji tidak hanya berkaitan dengan kemampuan finansial untuk membayar biaya perjalanan haji, tetapi juga mencakup kemampuan fisik dan kesehatan untuk menjalankan seluruh rangkaian ibadah.
“Istitha’ah haji berarti calon jemaah memiliki kemampuan untuk berangkat dan melaksanakan ibadah. Bukan hanya kemampuan membayar biaya haji, tetapi juga kemampuan dari aspek kesehatan,” tegasnya.
Saat melakukan pengawasan langsung di Arab Saudi, Netty mengaku menemukan banyak jemaah yang masuk kategori risiko tinggi. Sebagian besar merupakan lanjut usia yang memiliki penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung, hingga gagal ginjal.
Yang paling menjadi perhatian, kata Netty, adalah ditemukannya seorang jemaah yang menderita kanker stadium akhir namun tetap diberangkatkan ke Tanah Suci. Kondisi tersebut membuat jemaah yang bersangkutan harus menahan rasa sakit hampir setiap hari selama menjalankan ibadah.
“Salah satu yang sangat memprihatinkan adalah adanya jemaah haji yang menderita kanker stadium akhir. Selama di Tanah Suci beliau merasakan kesakitan setiap hari. Seharusnya kondisi seperti ini tidak diperbolehkan untuk berangkat,” katanya.
Netty menilai kondisi lingkungan di Arab Saudi yang berbeda dengan Indonesia dapat memperbesar risiko kesehatan bagi jemaah yang memiliki penyakit berat. Cuaca ekstrem, padatnya aktivitas ibadah, serta keterbatasan tenaga kesehatan di lapangan menjadi tantangan tersendiri yang harus diperhitungkan sejak proses seleksi calon jemaah.
Karena itu, ia meminta pemerintah melakukan skrining kesehatan secara lebih ketat dan komprehensif sebelum keberangkatan. Langkah tersebut dinilai penting agar jemaah yang berangkat benar-benar memenuhi syarat kesehatan dan mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan aman.
“Ke depan, penerapan istitha’ah kesehatan harus dilakukan lebih tegas dan konsisten. Jemaah yang diberangkatkan harus benar-benar dalam kondisi yang memungkinkan untuk menjalankan ibadah haji secara optimal,” pungkasnya.***



Tinggalkan Balasan