Orang-orang seperti kita ini rasanya sudah tidak punya tempat hidup di dunia yang semakin bising oleh kepura-puraan. Kita terlalu utopis dan dianggap jauh dari kata realistis.
Coba lihat banyak orang di sekitar kita. Mereka hidup nyaman, terlihat sukses, dan bisa mendapatkan banyak hal dengan cepat tanpa harus terlalu repot bekerja keras.
Padahal kurikulum pendidikan yang kita pelajari sama. Materi yang kita terima juga tidak berbeda jauh.
Yang membedakan mungkin hanya satu hal, yaitu cara mereka menjaga hati. Atau mungkin, mereka sudah terlalu lama berhenti mendengarkan hati nurani.
Kita terlalu sering diajari untuk menahan diri. Kita diminta sabar dan terus menunggu waktu yang katanya akan berpihak.
Namun pertanyaannya, kapan waktunya?. Dan sebenarnya berpihak kepada siapa?.
Setiap hari kita justru melihat yang culas dipermudah jalannya. Yang licik dipuji karena dianggap cerdas.
Mereka yang menindas malah mendapatkan banyak kemudahan. Sementara orang yang berusaha jujur sering dianggap mengganggu.
Kita diminta realistis. Padahal yang dimaksud hanyalah tunduk tanpa banyak bertanya.
Sebenarnya kita bukan tidak mampu menjadi seperti mereka. Kita hanya sadar harga yang harus dibayar.
Kita tahu kapan seseorang mulai menukar nurani dengan kenyamanan. Dan kita memilih berhenti sebelum sampai ke titik itu.
Akibatnya panjang. Kita dicap aneh, dianggap gagal, dan dinilai tidak becus membaca peluang hidup.
Ironisnya, dunia tidak benar-benar ingin kita berhasil dengan cara sendiri. Dunia hanya ingin kita terus menyesuaikan diri.
Kesadaran perlahan dihapus sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya kita lupa dulu pernah marah pada apa.
Kita dibuat sibuk bertahan hidup masing-masing. Pelan-pelan kita dijauhkan satu sama lain.
Padahal kalau mau jujur, kita lelah bukan karena tidak mampu. Kita lelah karena dipaksa hidup dalam kebohongan yang dianggap normal.
Kita lelah melihat yang benar dipelintir menjadi salah. Sementara yang salah justru dirayakan kemenangannya.
Kita juga lelah berpura-pura tidak tahu. Berpura-pura tidak peduli demi tetap diterima lingkungan.
Kalau memang harus ada yang berubah, mungkin bukan dunia yang langsung tunduk kepada kita. Tapi setidaknya kita berhenti berpura-pura.
Kita berhenti menganggap kegelisahan sebagai kelemahan. Kita juga berhenti iri pada mereka yang terlihat mudah bahagia.
Karena kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang mereka korbankan demi semua itu.
Dan kalau akhirnya kita memang tidak punya tempat di meja mereka, tidak apa-apa. Kita bisa membuat meja sendiri.
Meski kecil, sempit, atau rapuh, setidaknya kita tidak perlu menjual diri hanya untuk sekadar duduk di sana.
Maka dari itu, tolong Aamiin-kan doa kami:
“Ya Allah dzat yang Maha Pemarah kepada para penindas, Ya Allah dzat yang Maha Memberontak, tolong hadiahkan kepada kami segala hal yang dibutuhkan untuk melakukan pemberontakan…”
Doa itu lahir dari rasa lelah yang terlalu lama dipendam. Dari kesedihan, ketertindasan, dan ketidakadilan yang terus berulang.
Kita melihat banyak orang diancam karena menyuarakan kebenaran. Ada yang diteror, dipenjara, bahkan dihilangkan.
Begitu mahal harga sebuah kejujuran di dunia seperti ini.
Dan kita tahu, bahkan doa yang kita panjatkan sering terdengar seperti amarah yang tidak diinginkan siapa-siapa.
Seolah-olah doa harus selalu rapi dan sopan agar diterima. Padahal justru dalam retak itulah kejujuran paling nyata muncul.
Dunia tidak suka kejujuran yang terlalu telanjang. Dunia lebih menyukai kepatuhan yang terlihat tenang di permukaan.
Kita hidup dengan kesadaran yang tidak nyaman. Melihat hal tidak normal yang dianggap biasa setiap hari.
Kebohongan diulang terus menerus sampai terdengar seperti kebenaran.
Yang paling melelahkan adalah ketika kita mulai mempertanyakan diri sendiri. Apakah kita yang salah melihat, atau dunia memang kehilangan arah?.
Banyak dari kita akhirnya goyah. Karena pilihan yang tersedia sering terasa seperti kekalahan.
Kita pernah mencoba menyesuaikan diri. Mungkin dengan mengurangi pertanyaan atau menahan komentar.
Kadang kita ikut tertawa pada hal yang sebenarnya tidak lucu. Hanya agar tidak dianggap berbeda.
Namun setiap kali mencoba tunduk, ada sesuatu dalam diri yang menolak sepenuhnya diam.
Ada suara kecil yang terus mengingatkan bahwa ada yang sedang kita khianati.
Anehnya, justru karena masih mendengar suara itu, kita dianggap bermasalah.
Kita disebut terlalu idealis, terlalu keras kepala, terlalu sulit diatur.
Sementara mereka yang sudah lama berhenti peduli dianggap lebih dewasa dan lebih bijak.
Seolah kehilangan nurani adalah bentuk kedewasaan tertinggi.
Kita sering ditanya:
“Sampai kapan mau seperti ini?”
“Sampai kapan mau keras kepala?”
“Sampai kapan hidup dalam kegelisahan?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi sebenarnya penuh tekanan agar kita menyerah.
Karena yang mereka inginkan bukan jawaban, melainkan kepatuhan.
Lama-lama kita sadar, masalahnya bukan hanya individu. Masalahnya juga ada pada sistem yang memang tidak dirancang untuk orang seperti kita.
Sistem hanya memberi ruang bagi mereka yang siap menyesuaikan diri tanpa banyak bertanya.
Dan kita, dengan segala kegelisahan ini, menjadi seperti benda asing di dalamnya.
Kita tidak benar-benar ditolak. Tapi juga tidak pernah diterima sepenuhnya.
Kita diberi ruang sempit. Ruang yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali saat kita dianggap terlalu berisik.
Karena itu kita lelah. Bukan karena kalah, tapi karena terus dipaksa bertahan di tempat yang tidak menginginkan keberadaan kita.
Kita melihat banyak teman berubah. Dulu mereka juga marah dan banyak bertanya.
Sekarang mereka terlihat lebih tenang, lebih rapi, dan lebih diterima dunia.
Kita ingin percaya mereka bahagia. Tapi tetap muncul pertanyaan, apakah mereka benar-benar bahagia atau hanya berhasil menenangkan diri?.
Sering kali kita merasa sendirian. Padahal sebenarnya banyak orang merasakan hal yang sama.
Kita hanya dipisahkan oleh kesibukan dan rasa lelah yang terlalu panjang.
Padahal mungkin kalau kita saling menemukan, beban ini tidak akan terasa seberat sekarang.
Kita sebenarnya tidak pernah benar-benar menginginkan semua kemewahan itu.
Kita hanya ingin hidup tanpa harus mengkhianati diri sendiri.
Kita ingin bekerja tanpa kehilangan nurani. Kita ingin berhasil tanpa menginjak orang lain.
Hal sederhana seperti itu justru terasa paling sulit di dunia hari ini.
Dan kita terus bertanya, apakah masih ada ruang untuk hidup jujur tanpa terus dianggap kalah?.
Mungkin jawabannya memang tidak sederhana. Tapi selama kita masih bertanya, berarti masih ada sesuatu yang hidup dalam diri kita.
Sesuatu yang belum berhasil mereka ambil.
Mungkin itu yang harus kita jaga terlebih dahulu. Bukan kemenangan besar, melainkan kemampuan untuk tetap sadar dan tetap merasa.
Karena dari kesadaran kecil itulah semuanya bisa dimulai lagi. Pelan-pelan, tanpa harus sempurna.
Oleh: Salaf Mujamad – Artikel ini ditulis pada 8 April 2026.
Disclaimer: Artikel ini merupakan opini, bukan karya jurnalistik Gugah.co. Kolom Suara Pinggiran menjadi wadah bagi akademisi, aktivis, dan analis untuk menyuarakan gagasan bebas.




Tinggalkan Balasan