Media Asing Soroti Pelemahan Rupiah, Investor Khawatir Kredibilitas Fiskal Indonesia

JAKARTA – Media asing mulai menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Salah satunya adalah media asal Singapura, Channel News Asia atau CNA, yang menilai rupiah tengah menghadapi tekanan besar di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal Indonesia.

Dalam artikel berjudul “Why is the Indonesian rupiah falling, and could confidence be cracking?” yang tayang Kamis (22/5/2026), CNA menyebut rupiah telah melemah hingga menyentuh level sekitar Rp17.600 per dolar AS. Angka tersebut melampaui batas psikologis Rp17.000 yang selama ini dianggap penting oleh pelaku pasar.

Baca Juga:  BREAKING NEWS: IHSG Anjlok 4 Persen ke Level 6.440

CNA juga menyoroti kekhawatiran masyarakat yang mengaitkan pelemahan rupiah saat ini dengan Krisis Finansial Asia 1998. Pada periode tersebut, Indonesia mengalami gejolak ekonomi besar yang ditandai dengan lonjakan inflasi, runtuhnya sektor perbankan, hingga kerusuhan sosial yang berujung pada berakhirnya pemerintahan Presiden ke-2 RI, Suharto.

Menurut laporan tersebut, rupiah telah terdepresiasi sekitar 5 persen sepanjang tahun 2026 dan menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia. Meski demikian, sejumlah analis menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis akhir 1990-an.

Baca Juga:  Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah, Tembus Rp17.512 per Dolar AS

CNA mengutip pandangan analis dari perusahaan fintech Ebury yang menyebut kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan inflasi di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat memperburuk sentimen pasar terhadap aset domestik.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan investor khawatir kenaikan harga minyak akan meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah. Hal itu dinilai berpotensi melemahkan kredibilitas fiskal Indonesia serta mempersempit ruang gerak Bank Indonesia dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Baca Juga:  Ibunya Wafat, Thiago Masih Dipenjara GSF: Kecam Tindakan Israel Tak Berperikemanusiaan

Kekhawatiran investor disebut telah menyebar ke berbagai instrumen pasar keuangan. CNA mencatat pasar saham Indonesia mengalami tekanan cukup tajam, sementara Bank Indonesia harus melakukan intervensi berulang kali guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain faktor eksternal, investor asing juga disebut mulai mencermati arah kebijakan ekonomi pemerintah secara lebih luas. Termasuk di antaranya isu mengenai kredibilitas kebijakan serta semakin besarnya peran negara dalam aktivitas bisnis nasional.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran