Rupiah Hari Ini Fluktuatif di Level Rp17.600-Rp17.700 per Dolar AS

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026).

Mata uang Garuda diperkirakan akan bergerak pada kisaran sensitif antara level Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS akibat derasnya tekanan eksternal.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bakal ditutup di rentang Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS.

Proyeksi ini muncul setelah rupiah pada perdagangan sore sebelumnya sempat ditutup menguat ke posisi Rp17.629 per dolar AS berdasarkan data pasar spot TradingView.

Meskipun sempat menguat dan memimpin penguatan mata uang regional Asia, posisi rupiah dinilai belum aman dari sentimen global.

Baca Juga:  OJK Buka Suara soal 18 Saham RI yang Didepak MSCI: Tak Penuhi Kriteria Global

Pasar internasional saat ini menempatkan konflik Timur Tengah antara AS-Israel melawan Iran sebagai sumber ketidakpastian terbesar.

Sentimen ini diperparah oleh pernyataan kontradiktif Donald Trump yang memicu kekhawatiran serangan lanjutan.

Dampaknya, Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi seperlima minyak dunia mengalami penutupan efektif.

Lonjakan harga minyak dunia ini memicu risiko inflasi global baru yang memaksa bank sentral AS, The Fed, berpotensi menaikkan suku bunga acuan setidaknya 25 basis poin hingga akhir tahun menurut data CME FedWatch Tool.

Guna membentengi mata uang domestik dari pelarian modal asing, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin ke level 5,25 persen.

Baca Juga:  IHSG Anomali: Terpuruk ke 6.905 Saat Bursa Global Hijau, Sektor Transportasi Babak Belur

Langkah berani ini mengakhiri periode delapan bulan BI mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen. Selain BI Rate, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25 persen dan Lending Facility berada di 6,25 persen.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bauran kebijakan moneter ketat BI ini sangat efektif untuk meredam keperkasaan indeks dolar AS (DXY).

Di sisi lain, daya tahan rupiah juga ditopang oleh fundamental ekonomi dalam negeri yang solid, di mana tingkat inflasi April 2026 berhasil turun signifikan ke angka 2,42 persen.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Selasa Pagi Anjlok Rp35 Ribu, Kini Rp2.7 Juta per Gram

Pasar juga merespons positif langkah disiplin fiskal pemerintah yang memangkas alokasi dana program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) demi efisiensi anggaran belanja tahun berjalan.

Ditambah lagi, dokumen KEM-PPKF 2027 yang dipaparkan Presiden Prabowo Subianto di DPR RI menetapkan target kurs tahun depan di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS dengan defisit anggaran yang diperkecil.

Kendati koordinasi fiskal dan moneter berjalan optimal, pelaku industri manufaktur dan importir tetap mencermati pergerakan kurs secara ketat.

Sektor konstruksi bahkan memprediksi adanya kenaikan biaya proyek hingga 15 persen jika rupiah kembali melemah.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran