“ Zaman Telah sepi dari kehadiran para bijak bestari, tokoh besar kemanusiaan. Umat manusia berjalan tanpa lilin, tanpa cahaya, dan diliputi ketidakmengertian. Bila engkau seorang pelajar dan pemikir, seyogianya engkau mencari-cari dengan serius kabar dan jalan hidup mereka” (Syeikh Syahr-zuri)
KH. Hasan Bisri Ansor dikenal sebagai ulama kharismatik yang menempuh jalan tasawuf dan tarekat dengan penuh ketekunan. Dalam kehidupan sehari-harinya, beliau memadukan keteguhan syari’at dengan laku spiritual yang mendalam. Sosoknya dikenang sebagai pengamal tarekat yang istiqamah dalam dzikir, riyadhah, dan pembinaan akhlak umat.
Dalam buku Khazanah KH. Hasan Bisri Ansor: Jalan Sunyi Pengamal Tarekat dijelaskan bahwa KH. Hasan Bisri lahir pada hari Jumat Keliwon, 5 April 1952 M, di Kampung Terisi, Desa Rajasinga, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. Beliau merupakan putra dari pasangan Nyai Shofiyah dan Kiai Anshor Shaleh, serta anak kedua dari dua belas bersaudara. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga religius dan tradisi pesantren yang kuat.
Perjalanan spiritual KH. Hasan Bisri banyak dipengaruhi tradisi tasawuf dan tarekat. Dalam berbagai pengajian dan majelis dzikir, beliau sering menjelaskan bahwa syari’at, tarekat, dan hakikat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mengutip keterangan dari kitab كِفَايَةُ الْأَتْقِيَاءِ, beliau kerap membacakan nadzam:
فَشَرِيعَةٌ كَسَفِينَةٍ وَطَرِيقَةٌ
كَالْبَحْرِ ثُمَّ حَقِيقَةٌ دُرٌّ غَالِي
“Syari’at itu seperti perahu, tarekat seperti lautan, dan hakikat adalah mutiara yang sangat mahal nilainya.”
Menurut beliau, seseorang tidak akan sampai kepada hakikat tanpa menempuh jalan syari’at dan tarekat secara bersamaan. Pandangan inilah yang kemudian menjadi dasar pengamalan spiritualnya sekaligus ajaran yang diwariskan kepada para santri dan jamaahnya.
Dalam berbagai kesempatan, saat memberikan bimbingan atau tarbiyah dzikir, KH. Hasan Bisri juga sering mengutip syair dari Syaikh Abdullah al-Haddad untuk menegaskan pentingnya menjaga syari’at dalam perjalanan tasawuf:
وَإِنَّ الَّذِي لَا يَتَّبِعُ الشَّرْعَ مُطْلَقًا
عَلَى كُلِّ حَالٍ عَبْدُ نَفْسٍ وَشَهْوَةِ
صَرِيعُ هَوًى يَبْكِي عَلَيْهِ لِأَنَّهُ
هُوَ الْمَيِّتُ لَيْسَ الْمَيِّتُ مَيْتَ الطَّبِيعَةِ
وَمَا فِي طَرِيقِ الْقَوْمِ بَدْءًا وَمُنْتَهًى
مُخَالَفَةٌ لِلشَّرْعِ فَاسْمَعْ وَأَبْصِرِ
وَمَنْ حَادَ عَنْ عِلْمِ الْكِتَابِ وَسُنَّةٍ
فَبَشِّرْهُ فِي الدُّنْيَا بِخِزْيٍ وَذِلَّةِ
وَبَشِّرْهُ بِالْعُقْبَى بِسُكْنَى جَهَنَّمٍ
وَحِرْمَانِ جَنَّاتِ الْخُلُودِ وَرُؤْيَةِ
Yang artinya kurang lebih demikian:
“orang yang tidak mengikuti jalan syari’at
Adalah hamba nafsu dan syahwatnya
Korban nafsu pasti akan menangis
Karena ia telah mati tubuh
Takan kau lihat di jalan mereka
Pertentangan dengan syari’at, maka dengar dan lihat
Biarkanlah, jangan dengarkan perkataan orang sesat
Jangan kau tinggalkan al qur’an dan sunnah
Di sanalah terdapat petunjuk, keselamatan dan cahaya
Dari fitnah, kesesatan dan bid’ah
Para pengikut hukum Alqur’an dan sunnah
Adalah orang yang beruntung, bagi mereka syurga
Bagi mereka keridhaan Allah
Nikmat terbesar dan pemberian yang paling mulia
Para penentang ilmu Alqur’an dan sunnah
Kabari mereka akan kehinaan di dunia
Kabari mereka akan neraka jahanam di akhir dunia
Terhalang dari surga dan memandangnya”.
Syair tersebut mengajarkan bahwa jalan tasawuf sejati tidak pernah bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah. Karena itu, KH. Hasan Bisri selalu menegaskan bahwa pengamal tarekat wajib menjaga shalat,
Sebagai pengamal Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, sanad keilmuan KH. Hasan Bisri tersambung hingga kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Rasulullah SAW. Jalur tarekat yang beliau amalkan berasal dari tradisi Syekh Ahmad Khatib Sambas, yang memadukan Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah di Nusantara.
Dalam buku Khazanah KH. Hasan Bisri Ansor: Jalan Sunyi Pengamal Tarekat disebutkan bahwa silsilah tarekat KH. Hasan Bisri berasal dari jalur TQN Cirebon dan Indramayu, yaitu:
KH. Hasan Bisri Terisi menerima ijazah dari Syaikh Thofi Bunawi Kedokan Galih, dari Syaikh Bunawi Kedokan Galih, dari Syaikh Abdul Muthalib atau Syekh Tolhah bin Tolabuddin Kalisapu Cirebon, dari Syekh Ahmad Khatib Sambas.
Silsilah tersebut kemudian bersambung kepada para masyayikh Tarekat Qadiriyah hingga kepada:
سَيِّدُنَا الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
dan terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW melalui jalur para ulama, auliya, dan ahlul bait.
Melalui sanad tarekat inilah KH. Hasan Bisri mengajarkan dzikir, wirid, riyadhah, serta pembinaan akhlak kepada para murid dan jamaahnya. Bagi beliau, sanad bukan sekadar mata rantai keilmuan, melainkan wasilah ruhani yang menjaga kesinambungan ajaran tasawuf dari generasi ke generasi.
KH. Hasan Bisri dikenal sangat disiplin dalam menjalani riyadhah. Salah satu kisah yang paling dikenal di kalangan muridnya adalah ketika beliau menjalani puasa ngebleng selama 40 hari dalam proses menerima ijazah tarekat dari gurunya.
Setelah menyelesaikan riyadhah tersebut, kondisi fisiknya sempat dianggap meninggal dunia karena denyut jantung dan napasnya tidak terdeteksi. Bahkan keluarga dan masyarakat telah memandikan serta mengafaninya. Namun beberapa jam kemudian, beliau kembali sadar sambil terus melafalkan dzikir:
اللهُ … اللهُ … اللهُ
Peristiwa tersebut dikenang para muridnya sebagai bagian dari keteguhan spiritual KH. Hasan Bisri dalam menempuh jalan tarekat. Setelah itu, beliau istiqamah menjalani puasa dawam sepanjang hayatnya, kecuali pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, serta hari-hari tasyrik.
Selain mengajarkan dzikir dan wirid, beliau juga menyusun kumpulan amaliah tarekat dalam kitab:
مَجْمُوعَاتُ الْأَوْرَادِ وَالْأَدْعِيَةِ وَالسِّلْسِلَةِ عِلْمُ الطَّرِيقَةِ الْقَادِرِيَّةِ وَالنَّقْشَبَنْدِيَّةِ
Kitab tersebut berisi tuntunan dzikir harian, tawasul silsilah tarekat, hingga amalan-amalan ruhani yang diamalkan para muridnya.
Dalam dakwahnya, KH. Hasan Bisri selalu menekankan pentingnya menjaga syari’at dan akhlak. Beliau mengingatkan agar para murid menjauhi “lima M”, yakni mabuk, madon, maling, maen judi, dan mateni. Menurut beliau, tarekat bukan jalan untuk meninggalkan syari’at, melainkan jalan untuk menyempurnakan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam buku Khazanah KH. Hasan Bisri Ansor: Jalan Sunyi Pengamal Tarekat juga disebutkan bahwa hingga akhir hayatnya, KH. Hasan Bisri tetap istiqamah membimbing jamaah, mengajarkan dzikir, serta membina para santri di lingkungan pesantren dan masyarakat.
Beliau wafat tepat di usia 72 tahun dengan meninggalkan warisan spiritual yang terus hidup di tengah masyarakat, khususnya di wilayah Indramayu dan sekitarnya. Sosoknya dikenang sebagai ulama yang memilih “jalan sunyi” tasawuf, namun memberikan pengaruh besar dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Oleh: Karyudi – Penulis adalah Khodim Majlis Tarbiyah Nahdlatutthulab, dan Santri KH. Hasan Bisri Ansor.
Disclaimer: Artikel ini bukan Karya Jurnalistik dari Gugah.co. Suara Pinggiran merupakan wadah bagi para akademisi, aktivis atau analis yang ingin menyuarakan gagasan, opini atau pemikirannya.



Tinggalkan Balasan