Dunia Masuk Era AGI, Bursa Indonesia Masih Terjebak di Sektor Tradisional

JAKARTA – Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Patria Sjahrir, menilai pasar modal Indonesia tertinggal dalam menangkap gelombang teknologi global. Saat bursa dunia berlomba membangun ekosistem Artificial Intelligence (AI) dan Artificial General Intelligence (AGI), Indonesia masih bergantung pada sektor perbankan dan pertambangan.

Pandu menyebut Taiwan dan Korea Selatan sebagai pemimpin pasar saham di Asia saat ini. Kedua negara tersebut sukses membangun fondasi teknologi berbasis AI yang sangat kuat.

Pandu mengungkapkan bahwa tren dunia kini telah bergeser dari sekadar kecerdasan buatan (AI) menuju kecerdasan umum buatan atau AGI.

Baca Juga:  Menteri LH Jumhur Hidayat Dorong Penataan Tambang Ilegal Melalui Skema Koperasi Rakyat

“Cerita dunia hari ini hanyalah soal AI. Bahkan sekarang mulai bicara soal general intelligence atau AGI,” ujar Pandu di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin (11/5/2026).

Ia mencontohkan kemunculan humanoid atau robot manusia yang kini mampu membantu pekerjaan rumah tangga. Menariknya, harga robot tersebut sudah lebih murah daripada harga sebuah mobil.

Di tengah pesatnya teknologi global, pasar modal Indonesia justru mencatat penurunan sekitar 20 persen secara year-to-date. Pandu menyoroti dinamika pasar domestik yang masih didominasi oleh perusahaan bank dan tambang.

Baca Juga:  IHSG Sempat Menguat Pagi Ini, Namun Kembali Layu ke Level 6.826

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Taiwan. Perusahaan semikonduktor TSMC di Taiwan bahkan memiliki kapitalisasi pasar yang lebih besar daripada gabungan seluruh pasar modal di Asia Tenggara (ASEAN).

Meskipun Indonesia memiliki potensi besar di sektor energi, belum ada emiten lokal yang mampu mengikuti tren AI global secara nyata. Padahal, pengembangan infrastruktur AI membutuhkan dukungan energi dalam skala besar.

Menurut Pandu, bisnis energi seharusnya berkembang beriringan dengan kebutuhan teknologi masa depan ini. Ia juga membandingkan kemajuan India yang agresif membangun 30 gigawatt listrik tenaga surya dengan biaya sangat murah.

Baca Juga:  Industri Padat Karya Dominasi Subang: Pekerja Perempuan Tembus 78 Ribu Orang

Persoalan utama bursa Indonesia bukan sekadar masalah sentimen MSCI, melainkan kurangnya kreativitas dalam menciptakan cerita pertumbuhan baru.

Investor global saat ini tidak hanya mencari valuasi saham yang murah atau dividen tinggi dari sektor perbankan. Mereka mencari arah dan potensi pertumbuhan jangka panjang Indonesia di masa depan.

“Pertanyaan terbesar investor luar negeri terhadap Indonesia saat ini adalah: apa cerita pertumbuhan kalian?” pungkas Pandu.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *