JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot bergerak melemah pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (11/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda terkoreksi 6 poin atau 0,03% ke level Rp 17.388 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan Jumat lalu di posisi Rp 17.382.
Pelemahan ini selaras dengan tren negatif mayoritas mata uang di kawasan Asia. Hingga pagi ini, won Korea Selatan memimpin pelemahan dengan anjlok 0,73%, disusul baht Thailand (0,56%), peso Filipina (0,55%), dan yen Jepang (0,26%). Sebaliknya, yuan China justru menguat tipis 0,05% terhadap the greenback.
Tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang kini memasuki minggu ke-11. Mengutip MarketScreener, penguatan dolar AS terjadi setelah tanda-tanda pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu.
Presiden Donald Trump pada Minggu kemarin dilaporkan menolak tanggapan Iran terhadap proposal AS. Kondisi ini menyebabkan Selat Hormuz tetap tertutup, yang berdampak langsung pada lonjakan harga energi global.
Kepala Ekonomi Global JPMorgan, Bruce Kasman, memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang meningkatkan risiko operasional yang tajam. “Tim komoditas kami melihat tingkat tekanan operasional mulai terjadi sekitar bulan Juni jika situasi ini tidak segera mereda,” ungkapnya.
Di sisi domestik, pelemahan rupiah ini menjadi alarm bagi ketahanan ekonomi nasional. Para ekonom mulai mewanti-wanti beban intervensi rupiah seiring dengan turunnya cadangan devisa. Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) sempat menekankan bahwa langkah intervensi telah dilakukan secara “habis-habisan” untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak terperosok lebih dalam.
Sementara itu, dari pasar global lainnya, Jepang mulai bertaruh pada pergeseran kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank Sentral Jepang (BoJ). Dukungan dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, diharapkan dapat memperkuat intervensi pembelian yen guna memperlambat depresiasi mata uang yang tengah tertekan tersebut.***



Tinggalkan Balasan