GBK Ansor Zona V Menyusuri Jejak Pangeran Surya Negara dan Sumur Lemah Tamba

|

GUGAH — Sejarah bukan sekadar kisah masa lampau. Ia menjadi pijakan untuk memahami identitas sekaligus menentukan arah masa depan. Gagasan itulah yang menjadi napas Giat Bersama Kader (GBK) PAC GP Ansor Zona V dalam kegiatan bertajuk “Ngeruat Jagat: Sejarah Pangeran Surya Negara, Sumur Lemah Tamba, Desa Rancamulya”, Sabtu (31/10/2026).

Bertempat di Griya Seni Kaligrafi, kediaman Ustaz Cokro Wiroto (Kang Ato) di Desa Rancamulya, Kecamatan Gabuswetan, forum ini mempertemukan ratusan kader Ansor-Banser, tokoh masyarakat, dan pemerhati sejarah dalam satu ruang belajar tentang jejak lokal yang selama ini jarang diperbincangkan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris PC GP Ansor Kabupaten Indramayu Ary Rosyana, Ketua PAC GP Ansor se-Zona V dari Kandanghaur, Gabuswetan, Kroya, dan Bongas, Ketua Tanfidziyah MWCNU Gabuswetan Ustaz Yusuf Supendi, Kuwu Desa Rancamulya Waryanto, serta masyarakat setempat.

Baca Juga:  GP Ansor Bandung Barat Laporkan Dugaan Pemalakan terhadap Kadernya ke Polisi

Dalam sambutannya, Ary Rosyana mengapresiasi konsistensi PAC GP Ansor Zona V yang menjadikan GBK sebagai ruang kaderisasi berbasis pengetahuan. Menurutnya, sejarah memiliki posisi penting dalam membentuk cara pandang kader terhadap organisasi maupun kehidupan bermasyarakat.

“Kader Ansor harus tahu sejarah. Karena dengan belajar sejarah, kita tahu arah kita di masa lalu dan arah kita di masa yang akan datang,” ujarnya.

Baca Juga:  Edun, Data Penerima KIP Purwakarta Diduga Terbuka di Scribd

Pernyataan tersebut menjadi pengantar menuju sesi utama berupa bedah sejarah yang disampaikan oleh Arya Wiradirjo. Dalam paparannya, ia mengulas proses terbentuknya Kabupaten Indramayu, termasuk dinamika kekuasaan dan pembagian wilayah yang melatarbelakangi lahirnya sejumlah daerah di bagian barat Indramayu.

Salah satu bahasan yang mendapat perhatian peserta adalah mengenai wilayah Lelea, Kandanghaur, dan Haurgeulis yang disebut sebagai tanah hadiah atas jasa perang pada masa lampau. Dari penelusuran sejarah itu, Arya mengajak masyarakat untuk tidak melupakan akar sejarah daerahnya sekaligus memperkuat tata kelola wilayah dan pemerintahan sebagai bagian dari upaya menjaga identitas lokal.

Baca Juga:  Distribusi Kader ke Ruang Pengabdian, Heru Purnama Nahkodai Karang Taruna Sukaraharja

Tema “Ngeruat Jagat” sendiri dipilih bukan semata sebagai simbol pelestarian budaya, melainkan juga sebagai ajakan merawat ingatan kolektif masyarakat. Melalui pemahaman terhadap tokoh seperti Pangeran Surya Negara dan situs Sumur Lemah Tamba, kader Ansor diharapkan tidak hanya menjadi penerus organisasi, tetapi juga penjaga warisan sejarah dan kebudayaan daerah.

Bagi PAC GP Ansor Zona V, GBK bukan sekadar agenda rutin. Forum ini menjadi ruang bertemunya kaderisasi, kebudayaan, dan kesadaran sejarah—sebuah ikhtiar agar generasi muda tetap mengenal asal-usul tanah yang mereka pijak sekaligus memiliki bekal dalam menghadapi masa depan.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran