Menelisik Tiga Kunci Sukses Pendidikan Menurut Burhanuddin al-Zarnuji

يحتاج في التعلم و التفقه إلى جد الثلاثة: المتعلم و الأستاذ و الأب إن كان في الأحياء

“Dalam proses menuntut ilmu dan mendalaminya, dibutuhkan kesungguhan dari tiga pihak: murid, guru, dan orang tua jika masih hidup.” (Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim).

Begitulah kunci kesuksesan dalam pendidikan menurut al-Zarnuji. Jika salah satu—atau bahkan dua—dari tiga unsur ini tidak bersungguh-sungguh, maka hasil yang diharapkan akan sulit tercapai. Apalagi jika ketiganya abai, maka kegagalan hampir menjadi keniscayaan. Sebaliknya, apabila ketiganya hadir dengan kesungguhan dan kesadaran peran masing-masing, maka keberhasilan pendidikan bukan hanya mungkin, tetapi sangat terbuka lebar.

Namun, apa yang dimaksud dengan “kesungguhan” dari masing-masing pihak? Bagaimana bentuk konkretnya dalam kehidupan nyata? Berikut elaborasinya.

Tiga Kunci Sukses Pendidikan ala Al-Zarnuji

Pertama, Murid (al-Muta’allim)

Kesungguhan murid tidak hanya diukur dari seberapa lama ia belajar, tetapi dari kualitas adab dan keseriusannya dalam menempuh proses keilmuan. Dalam tradisi pesantren yang merujuk pada Ta’lim al-Muta’allim, kesungguhan itu mencakup:

  • Adab (etika belajar): khidmat kepada ilmu dan guru, tawadhu’, disiplin, dan menjaga niat.
  • Aktivitas intelektual: mendengarkan dengan seksama, memahami dan merenungi, menghafal, mengulang pelajaran, bertanya, berdiskusi, mengamalkan, hingga mengajarkan kembali ilmu yang diperoleh.

Lebih dari itu, murid harus membentuk dirinya menjadi insan adabi sekaligus lifelong learner (pembelajar sepanjang hayat). Ini berarti menjadikan ilmu sebagai jalan hidup, bukan sekadar alat meraih nilai atau gelar.

Baca Juga:  Hardiknas 2026: Abdul Mu’ti Paparkan Formula 3M dan Fondasi Ekosistem Pendidikan Terintegrasi

Di era disrupsi seperti sekarang, tuntutan terhadap murid semakin kompleks. Mereka tidak cukup hanya menguasai satu bidang ilmu, tetapi juga perlu memiliki kemampuan multidisipliner. Soft skill menjadi kunci utama, seperti:

  • Critical thinking (berpikir kritis)
  • Creativity (kreativitas)
  • Communication (kemampuan komunikasi)
  • Collaboration (kerja sama)
  • Learning mindset (mental pembelajar)

Soft skill inilah yang justru banyak “dijual” dan dibutuhkan di era modern. Dengan soft skill yang kuat, seseorang akan lebih mudah menguasai hard skill dan beradaptasi dengan berbagai perubahan zaman.

Sebagai ilustrasi, sosok Rocky Gerung sering dipandang cerdas bukan semata karena gelar akademiknya, tetapi karena karakter pembelajarnya: gemar membaca, kritis dalam berpikir, aktif berdiskusi, berani menyampaikan gagasan, serta produktif menulis. Ini menunjukkan bahwa sikap belajar jauh lebih menentukan daripada sekadar atribut formal.

Karena itu, murid sebaiknya tidak membatasi diri hanya pada bidang yang disukai. Ilmu lain tetap perlu dipelajari sebagai bekal kehidupan. Bisa jadi, justru dari bidang yang awalnya tidak diminati, lahir keahlian baru yang menentukan masa depan.

Analogi “ikan disuruh memanjat pohon” sering digunakan untuk mengkritik sistem pendidikan yang menyeragamkan murid. Namun, klaim bahwa seseorang adalah “ikan” tidak bisa diputuskan sepihak. Perlu pandangan objektif dari guru dan orang tua. Bisa jadi, di masa depan ia justru menjadi “kera” yang paling ahli memanjat—yakni menemukan potensi terbaiknya melalui proses panjang pendidikan.

Baca Juga:  Pemkab Sukabumi Bagikan Beasiswa Pendidikan di Momentum Hardiknas 2026

Kedua, Guru (al-Ustadz)

Kesungguhan guru tidak berhenti pada aktivitas mengajar di kelas atau menggugurkan kewajiban administratif. Guru bukan sekadar profesi, melainkan amanah keilmuan dan moral.

Guru yang bersungguh-sungguh adalah mereka yang:

  • Mengajar dengan niat ikhlas, bukan semata-mata materi.
  • Memahami karakter, potensi, dan kondisi psikologis murid.
  • Menjadi teladan dalam akhlak, bukan hanya penyampai materi.
  • Membimbing, mendidik, dan mengarahkan, bukan sekadar “mentransfer ilmu”.
  • Peduli terhadap perkembangan moral dan spiritual murid, bukan hanya capaian akademik.

Dalam perspektif al-Zarnuji, guru memiliki posisi sentral sebagai murabbi (pendidik sejati), bukan hanya mu’allim (pengajar). Ia harus mampu “masuk” ke dunia murid, memahami kegelisahan mereka, serta menuntun mereka menuju kedewasaan intelektual dan moral.

Guru yang abai—yang hanya hadir, mengajar sekadarnya, lalu pulang tanpa kepedulian—tidak akan mampu melahirkan generasi unggul. Sebaliknya, guru yang totalitas akan melahirkan murid yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.

Ketiga, Orang Tua (al-Ab)

Peran orang tua sering kali dianggap selesai ketika anak sudah diserahkan ke sekolah atau pesantren. Padahal, menurut al-Zarnuji, orang tua adalah pilar utama pendidikan.

Baca Juga:  Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Ironi Sistem Pendidikan di Cianjur

Kesungguhan orang tua mencakup:

  • Memberikan dukungan moral dan spiritual kepada anak.
  • Menanamkan nilai-nilai adab sejak dini.
  • Mengawasi dan mengarahkan proses belajar anak.
  • Mendoakan dan memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak. Jika fondasi ini kuat, maka pendidikan di sekolah akan menjadi penguat, bukan pengganti.

Ketika orang tua, guru, dan murid berjalan selaras dalam kesungguhan, maka pendidikan akan melahirkan generasi yang utuh: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual.

Konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Burhanuddin al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim tetap relevan hingga hari ini. Tiga kunci—murid, guru, dan orang tua—bukan hanya elemen formal, tetapi fondasi utama keberhasilan pendidikan.

Kesungguhan ketiganya bukan sekadar tuntutan, melainkan kebutuhan. Tanpa itu, pendidikan akan kehilangan ruhnya. Dengan itu, pendidikan akan menjadi jalan lahirnya peradaban.

Oleh: M. Yasir Alawi SastradimadjaPenulis adalah Sekretaris LTN PCNU Garut yang konsen terhadap literasi ke-NU-an.

DisclaimerArtikel ini bukan Karya Jurnalistik dari Gugah.co. Suara Pinggiran merupakan wadah bagi para akademisi, aktivis atau analis yang ingin menyuarakan gagasan, opini atau pemikirannya.

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *