GUGAH — Lebih dari 170 siswa kelas 4, 5, dan 6 SDIT Assalam Garut mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Lapangan Alun-Alun Garut, Kamis (22/10/2026). Didampingi para guru, keikutsertaan siswa sekolah yang beralamat di Jalan A. Yani Blok 331, Sukaregang Pasantren, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan tradisi santri, sejarah perjuangan ulama, serta nilai-nilai kebangsaan sejak usia dini.
Keikutsertaan tersebut sebelumnya disiapkan melalui surat resmi SDIT Assalam Garut Kota Nomor 045.2/SDIT-ASS/X/2026 tertanggal 21 Oktober 2026 tentang tugas pendampingan dan keikutsertaan dalam upacara HSN 2026. Sekolah menugaskan siswa kelas 4, 5, dan 6 bersama tujuh guru pendamping untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Para pendamping terdiri atas wali kelas dan guru agama, sehingga kegiatan diharapkan tidak berhenti pada kehadiran dalam upacara, tetapi juga menjadi pengalaman belajar bagi para siswa.
Kepala SDIT Assalam Garut Kota, Ema Halimah, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya memperkenalkan Hari Santri Nasional kepada para siswa, termasuk latar belakang sejarah penetapannya dan perjuangan para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, pemahaman tentang HSN perlu dibangun sejak dini agar siswa mengetahui bahwa peringatan tersebut memiliki akar sejarah dan nilai perjuangan yang penting bagi kehidupan berbangsa.
Salah satu materi utama yang perlu dikenalkan kepada siswa ialah Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 oleh para ulama Nahdlatul Ulama. Seruan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan berkaitan erat dengan semangat perlawanan rakyat dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Melalui pengenalan sejarah ini, siswa diharapkan memahami bahwa kontribusi ulama dan santri terhadap bangsa tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga mengandung nilai keberanian, tanggung jawab, dan pengabdian.
Ema juga menilai pengetahuan mengenai Nahdlatul Ulama perlu dimiliki para siswa agar mereka mengenal organisasi keagamaan yang memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengenalan tersebut dapat dilakukan melalui pemahaman sejarah, tradisi keagamaan, nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, serta sikap menjaga persatuan dan menghormati perbedaan. Dengan pendekatan yang sesuai usia, nilai-nilai itu dapat menjadi bekal pembentukan karakter dan akhlak para siswa.
Bagi SDIT Assalam Garut, partisipasi dalam upacara HSN menjadi salah satu cara menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan pengalaman langsung di tengah masyarakat. Para siswa tidak hanya menyaksikan prosesi upacara, tetapi juga berkesempatan mengenal makna peringatan Hari Santri dalam suasana kebersamaan bersama santri, lembaga pendidikan, dan berbagai unsur masyarakat di Kabupaten Garut.
Lebih jauh, sekolah berharap pengenalan sejarah dan nilai-nilai NU dapat menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, agama, dan bangsa. Pendidikan sejak usia dasar dipandang penting untuk membentuk generasi yang berakhlak, memahami akar sejarahnya, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dengan demikian, semangat Hari Santri dapat diterjemahkan dalam perilaku sehari-hari, mulai dari kedisiplinan belajar hingga sikap saling menghormati.
Ema Halimah berharap para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut kelak tumbuh menjadi generasi yang siap melanjutkan perjuangan para pendahulu dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat. Harapan itu mencakup lahirnya kader-kader NU masa depan yang berilmu, berkarakter, dan mampu mewarnai perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Bagi SDIT Assalam Garut, mengenalkan Hari Santri sejak dini merupakan bagian dari ikhtiar menanamkan fondasi agar generasi muda memahami sejarah, menjaga tradisi, serta berkontribusi bagi masa depan Garut dan Indonesia.***





Tinggalkan Balasan