MWCNU Bayongbong Pacu Kinerja 18 Ranting, Perkuat Khidmah hingga Pendidikan Keagamaan

|

GUGAH – Menjelang berakhirnya masa khidmat kepengurusan, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Bayongbong memilih menjadikan Musyawarah Kerja Kecamatan (Mukercam) III bukan sekadar agenda evaluasi tahunan. Forum yang digelar di Sekretariat MWCNU Bayongbong, Selasa (13/10/2026), itu diarahkan untuk memperkuat konsolidasi organisasi hingga tingkat anak ranting sekaligus memastikan khidmah NU semakin dirasakan masyarakat.

Mukercam diikuti jajaran pengurus MWCNU, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU), lembaga, dan badan otonom NU se-Kecamatan Bayongbong. Selain mengevaluasi pelaksanaan program kerja, forum juga menjadi pijakan menyusun langkah strategis menjelang Konferensi MWCNU (Konfercam).

Bagi MWCNU Bayongbong, tantangan organisasi hari ini bukan hanya menjaga struktur tetap berjalan, melainkan memastikan setiap ranting aktif menjalankan peran pelayanan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, penguatan koordinasi menjadi salah satu fokus utama pembahasan.

Sebelum forum dimulai, Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Garut Bidang Organisasi, Ir. Deni Ranggajaya, memberikan pembinaan mengenai penataan organisasi mulai dari tingkat MWCNU, ranting, hingga anak ranting. Ia menekankan pentingnya pemetaan potensi wilayah agar program yang dijalankan tidak berhenti sebagai agenda organisasi, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:  817 Warga Garut Mengadu Nasib di Luar Negeri, KPU Pastikan Hak Pemilih Tetap Terjaga

Penguatan kelembagaan, menurutnya, harus diikuti dengan pembagian tugas yang jelas, komunikasi yang rutin, serta evaluasi berkelanjutan. Dengan cara itu, organisasi memiliki arah kerja yang terukur dan mampu merespons persoalan yang berkembang di tingkat akar rumput.

Ketua MWCNU Bayongbong, H. Asep Muhammad Rosyad, menegaskan bahwa komunikasi antarpengurus, lembaga, badan otonom, hingga anak ranting harus semakin erat. Menurutnya, khidmah di Nahdlatul Ulama tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi harus hadir dalam bentuk pelayanan yang dirasakan langsung oleh jamaah.

Semangat itu diwujudkan melalui program TURING (Turun Keliling) yang saat ini menjadi salah satu program unggulan MWCNU Bayongbong. Dengan mendatangi 18 ranting NU secara bergilir, pengurus tidak hanya mempererat silaturahmi organisasi, tetapi juga menghadirkan pelayanan berupa pemeriksaan kesehatan gratis dan penguatan gerakan Koin NU.

Baca Juga:  Kader Ansor Soreang Raih Voucher Umrah, Berangkat ke Tanah Suci Lewat Kolaborasi GP Ansor dan MMD

Program tersebut menunjukkan bahwa konsolidasi organisasi dapat berjalan beriringan dengan pelayanan masyarakat. Kehadiran pengurus di tingkat ranting membuka ruang dialog untuk memetakan persoalan warga sekaligus memperkuat hubungan antara NU dan jamaah. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap temuan di lapangan ditindaklanjuti melalui program yang berkelanjutan, bukan berhenti pada kunjungan semata.

Mukercam III juga memberi perhatian pada isu pendidikan keagamaan. Rais Syuriyah MWCNU Bayongbong menyampaikan perlunya penguatan pendidikan agama di tengah perubahan sosial yang semakin cepat. Menurutnya, pembentukan karakter dan pemahaman nilai-nilai keislaman harus menjadi perhatian bersama agar mampu berjalan seiring dengan pendidikan formal.

Baca Juga:  STIEBS NU Garut Bekali 105 Mahasiswa Baru dengan Keilmuan dan Nilai Ke-NU-an

Isu tersebut menjadi pengingat bahwa peran NU tidak hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga ikut memperkuat kualitas pendidikan masyarakat. Sinergi dengan lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat menjadi langkah penting agar penguatan pendidikan keagamaan dapat diwujudkan secara nyata.

Menjelang Konfercam, MWCNU Bayongbong menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan seluruh program yang telah dirintis tetap berlanjut. Penguatan struktur hingga anak ranting, optimalisasi program TURING, serta tindak lanjut terhadap isu pendidikan keagamaan menjadi agenda yang memerlukan komitmen bersama seluruh unsur organisasi.

Melalui Mukercam III, MWCNU Bayongbong menegaskan bahwa ukuran keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh terselenggaranya musyawarah, tetapi oleh kemampuan mengubah hasil forum menjadi kerja nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Konsolidasi yang kuat akan bermakna apabila melahirkan pelayanan yang semakin dekat dengan warga dan khidmah yang benar-benar dirasakan hingga tingkat paling bawah.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran