151 Siswa dan Guru SMKN 1 Gunungguruh Alami Gejala Diduga Keracunan Usai Santap MBG

|

GUGAH – Sebanyak 151 siswa dan guru SMKN 1 Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, mengalami gejala yang diduga akibat keracunan makanan setelah mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Para korban mulai mengeluhkan pusing, mual, muntah, hingga diare sekitar dua jam setelah menyantap makanan.

Pelaksana Tugas (Plt) Camat Gunungguruh, Ridwan Agus Mulyawan, mengatakan makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WIB pada Jumat (2/10/2026). Menu yang disajikan berupa dimsum ayam dan kentang.

“MBG itu baru dikonsumsi para siswa serta guru pada pukul 13.00 WIB. Menu yang disajikan saat itu berupa dimsum ayam dan kentang,” ujar Ridwan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/10/2026).

Baca Juga:  Karhutla di Palabuhanratu Sukabumi, Pemadam Terkendala Akses

Sekitar pukul 15.00 WIB, para siswa dan guru mulai merasakan gejala seperti pusing, mual, muntah, dan diare. Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 151 orang terdampak. Tidak ada korban meninggal dunia, namun satu orang guru harus dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

Ridwan menjelaskan, pihak kecamatan baru menerima laporan kejadian pada Rabu pagi (7/10/2026). Setelah menerima laporan, tim dari Puskesmas Cibolang langsung diterjunkan ke SMKN 1 Gunungguruh untuk melakukan pemeriksaan, pendataan korban, serta investigasi lapangan.

Baca Juga:  Jangan Jadikan MBG ATM Yayasan

“Iya, tim dari Puskesmas Cibolang sudah langsung ke SMKN 1 Gunungguruh untuk investigasi. Terkait penanganan awal, sempat ada kendala komunikasi karena pada saat kejadian hari Jumat lalu, tidak ada laporan resmi dari pihak sekolah maupun pihak SPPG,” katanya.

Kasus tersebut kini telah dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, termasuk Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), guna dilakukan pemeriksaan sampel makanan serta penelusuran penyebab dugaan keracunan.

Baca Juga:  Hardiknas 2026, DPRD Soroti Kekurangan Guru di Kota Bekasi Kian Parah, Beban Mengajar Tak Ideal

Ridwan menyayangkan keterlambatan pelaporan dari pihak sekolah maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga proses penanganan dan investigasi tidak dapat dilakukan segera setelah kejadian.

“Kami menyesalkan karena tidak ada pelaporan baik dari pihak sekolah maupun pihak SPPG pada saat kejadian. Laporannya baru kami terima pada Rabu pagi,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan maupun penyebab pasti gejala yang dialami para korban masih dalam proses penyelidikan oleh pihak berwenang.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran