Opera Puccini Menggema di Tengah Kebun Mawar Garut

|

GUGAH – Suasana berbeda hadir di Kebun Mawar Situ Hapa, Garut, ketika lantunan opera klasik mengisi udara pegunungan pada Minggu (30/8/2026) sore. Di tengah hamparan bunga dan udara sejuk kawasan berketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, penyanyi soprano Steff Pamungkas menghadirkan sejumlah karya opera yang selama ini lebih akrab terdengar dari panggung-panggung pertunjukan musik klasik.

Konser tersebut mempertemukan musik vokal klasik dengan ruang pertunjukan yang tidak biasa. Steff tampil bersama pianis Yohanes Siem di hadapan ratusan penonton yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari sahabat, siswa sekolah musik, hingga komunitas musik dari Jakarta, Bandung, dan Garut.

Salah satu bagian yang paling mendapat perhatian ialah penampilan Steff membawakan “Vissi d’Arte” dari opera osca karya komposer Italia Giacomo Puccini. Aria yang menggambarkan pergulatan batin tokoh Tosca itu sebelumnya dikenal luas melalui penampilan soprano dunia, termasuk Maria Callas dan Montserrat Caballe.

Musik menemukan rumah baru.

Steff juga membawakan “Quando m’en vo” dari opera La Boheme, karya Puccini lainnya yang menampilkan karakter Musetta. Pilihan repertoar tersebut membuat konser di Situ Hapa tidak sekadar menjadi pertunjukan vokal, tetapi juga membawa sebagian tradisi opera Italia ke ruang terbuka yang jauh dari atmosfer gedung opera konvensional.

Baca Juga:  Jelang Persija vs Persib, Igor Tolic Ungkap Kunci Maung Bandung Curi Poin di GBK

Kehadiran sejumlah tokoh lokal turut memberi warna pada pertunjukan tersebut. Di antara penonton yang hadir terdapat Camat setempat Bambang Isnaeni Fathan, Kapolsek Kompol Hilman Nugraha, istri Danramil Kapten Caj Muji Rahayu, serta pasangan arsitek Retno Dewi Arifin dan Zainal Arifin sebagai pemilik Kebun Mawar Situ Hapa.

Selain karya Puccini, Steff memperluas repertoarnya dengan membawakan “Seguidilla” dari opera Carmen karya Georges Bizet dan “Mein Herr Marquis” dari opereta Die Fledermaus karya Johann Strauss Jr. Komposisi tersebut menunjukkan rentang musikal yang tidak hanya bertumpu pada satu komposer atau satu periode musik klasik.

Namun, ada bagian yang membuat konser itu memiliki karakter tersendiri. Steff memasukkan “Siklus”, sebuah karya ciptaannya yang dirangkai dari puisi “Kelindan” karya Chairil Anwar yang ditulis pada 1943.

Karya tersebut sebelumnya pernah dibawakan Steff dalam sebuah pertunjukan di kawasan Kemang, Jakarta. Ketika dipindahkan ke ruang terbuka Situ Hapa, karya personal itu kembali mendapatkan konteks berbeda karena berhadapan langsung dengan suasana alam, penonton komunitas, dan lanskap kebun yang menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan.

Baca Juga:  Pergunu Jabar Lepas Mahasiswa Penerima Beasiswa, PWNU Tekankan Pengabdian

Dari sisi vokal, penampilan Steff menunjukkan perkembangan yang semakin matang. Kekuatan suara dan kemerduannya dinilai terus bertumbuh, meski ekspresi artistik masih dapat diperdalam melalui keanggunan interpretasi agar karakter karya yang dibawakan terasa semakin kuat.

Peran Yohanes Siem juga menjadi bagian penting dalam membangun suasana konser. Pianis yang pernah berkiprah di panggung internasional dan merupakan lulusan program master di Prince Claus Conservatoire, Belanda, itu memberikan fondasi musikal yang mengimbangi karakter vokal Steff sepanjang pertunjukan.

Konser kemudian ditutup dengan penampilan yang lebih cair. Steff berduet bersama Dewi Arifin, pemilik Kebun Mawar Situ Hapa, membawakan “La Vie en Rose”, lagu ikonik yang lekat dengan penyanyi Prancis Edith Piaf.

Pertunjukan itu sekaligus memperlihatkan bahwa musik klasik tidak selalu harus hadir di ruang pertunjukan formal. Ketika opera, puisi, piano, dan lanskap alam dipertemukan dalam satu panggung, penonton mendapatkan pengalaman yang berbeda dari konser konvensional.

Baca Juga:  Gerakan Pangan Murah Upaya Pemkab Purwakarta Jaga Stabilitas Harga

Prakarsa Steff juga membawa pesan yang lebih luas mengenai akses terhadap musik klasik. Upayanya membina bakat-bakat musik sekaligus memperkenalkan repertoar klasik kepada masyarakat menjadi ruang untuk mendekatkan genre yang kerap dianggap eksklusif atau elitis tersebut kepada publik yang lebih beragam.

Situ Hapa menjadi panggung alternatif.

Bagi Garut, pertunjukan semacam ini juga membuka kemungkinan baru bagi pemanfaatan ruang-ruang kreatif berbasis alam dan komunitas. Kebun, kawasan wisata, maupun ruang publik dapat menjadi tempat pertemuan antara seni, pendidikan, pariwisata, dan apresiasi masyarakat.

Pada akhirnya, konser Steff Pamungkas di Kebun Mawar Situ Hapa tidak hanya meninggalkan jejak berupa lantunan aria Puccini. Pertunjukan tersebut mempertemukan tradisi musik klasik dengan karakter lokal Garut sekaligus menunjukkan bahwa karya seni dapat menemukan panggungnya di mana saja, selama ada seniman, ruang, dan publik yang bersedia menikmatinya.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran