GUGAH – Organisasi tidak selalu retak karena kekurangan program. Kadang, masalah justru bermula dari komunikasi yang tidak berjalan dan kader yang merasa tidak lagi punya ruang untuk didengar.
Hal itulah yang coba dijawab Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Plered melalui Diskusi Mingguan di Pondok Pesantren Miftahul Khoirot, Desa Gandamekar, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Minggu (4/10/2026).
Mengusung tema “Membangun Organisasi yang Solid dengan Kerja Sama dan Komunikasi”, forum tersebut tidak sekadar menjadi ruang penyampaian materi. Kader diberi kesempatan menyampaikan pandangan, pengalaman, sekaligus gagasan tentang bagaimana organisasi dijalankan secara kolektif.
Diskusi dipantik Rekanita Mega, anggota angkatan 2025, dan dimoderatori Rekanita Wulan, anggota angkatan 2026. Perbedaan angkatan menjadi bagian dari dinamika forum, dengan kader diberi ruang untuk saling bertukar perspektif.
Rekan Dias, pengurus PAC IPNU Plered bidang dakwah, menilai soliditas tidak mungkin dibebankan kepada segelintir kader.
“Organisasi tidak bisa berjalan hanya dengan mengandalkan beberapa orang. Dibutuhkan kerja sama dan komunikasi yang baik dari seluruh kader agar setiap program dan tanggung jawab dapat dijalankan bersama,” ujar Rekan Dias.
Sementara itu, Rekan Rizky, Wakil Ketua 3 PAC IPNU Plered bidang Jaringan Sekolah dan Pesantren (JSP), melihat komunikasi sebagai fondasi penting dalam pembagian peran dan tanggung jawab kader.
“Komunikasi yang baik akan memudahkan kita dalam bekerja sama. Ketika komunikasi dibangun secara terbuka, setiap kader bisa memahami peran dan tanggung jawabnya sehingga tujuan organisasi dapat diupayakan secara bersama,” ungkap Rekan Rizky.
Menurutnya, forum diskusi juga menjadi ruang untuk membiasakan kader menyampaikan gagasan sekaligus belajar mendengarkan pandangan orang lain.
Pandangan serupa disampaikan Rekan Abdul Jalil selaku tuan rumah kegiatan. Menurutnya, keterlibatan aktif kader menjadi bagian penting dalam membangun kebersamaan.
“Ketika semua terlibat aktif dalam diskusi, kita bukan hanya bertukar pendapat, tetapi juga belajar untuk saling mendengarkan dan menghargai. Dari proses itu, kebersamaan dan soliditas organisasi dapat dibangun,” tutur Rekan Abdul Jalil.
Di sinilah diskusi mingguan memiliki makna yang lebih luas. Organisasi yang solid bukan hanya terlihat ketika sebuah kegiatan berlangsung ramai, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan ruang komunikasi, membagi peran, dan memastikan kader merasa memiliki tanggung jawab bersama.
Bagi PAC IPNU-IPPNU Plered, forum tersebut diarahkan menjadi bagian dari proses kaderisasi. Kader tidak hanya dituntut aktif menghadiri kegiatan, tetapi juga dilatih untuk menyampaikan gagasan, mendengar, bekerja sama, dan mengambil peran dalam keberlangsungan organisasi.
Jika kebiasaan berdiskusi dan berkomunikasi dapat dirawat secara konsisten, soliditas organisasi tidak berhenti sebagai slogan. Ia tumbuh dari kebiasaan sederhana: berani bicara, mau mendengar, dan bersedia bekerja bersama.***



Tinggalkan Balasan