GUGAH.CO – Semangat berolahraga sering datang tiba-tiba. Hari ini baru berniat hidup lebih sehat, besok langsung ingin lari jauh, angkat beban berat, atau mengikuti latihan berintensitas tinggi.
Masalahnya, tubuh belum tentu siap.
Bagi masyarakat yang ingin memulai olahraga dengan intensitas berat, pemeriksaan atau skrining kesehatan penting dilakukan terlebih dahulu. Langkah ini bukan untuk membuat olahraga menjadi rumit, melainkan untuk mengetahui kondisi tubuh dan mengurangi risiko gangguan kesehatan saat aktivitas fisik dilakukan.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dr. Michael Triangto, Sp.KO, mengatakan kemampuan setiap orang dalam melakukan aktivitas fisik berbeda. Karena itu, olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Pernyataan tersebut dikutip dari Kantor Berita Antara, Kamis (16/7/2026).
Jangan Samakan Tubuh dengan Orang Lain
Kesalahan yang cukup sering terjadi ketika mulai berolahraga adalah mengikuti kemampuan orang lain.
Melihat teman mampu berlari 10 kilometer, misalnya, bukan berarti tubuh kita harus langsung mengikuti jarak yang sama. Begitu pula ketika melihat seseorang mampu mengangkat beban tertentu atau menjalani latihan berintensitas tinggi.
Tubuh membutuhkan proses adaptasi.
Karena itu, bagi orang yang sebelumnya jarang berolahraga, peningkatan intensitas sebaiknya dilakukan secara bertahap.
Terlebih jika memiliki riwayat penyakit tertentu, skrining dapat membantu mengetahui faktor risiko yang perlu diperhatikan sebelum latihan dimulai.
Jangan Olahraga Berat karena Ikut Tren
Olahraga memang sedang menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Namun, tren tidak seharusnya menjadi alasan untuk memaksa tubuh bekerja di luar kemampuannya.
Memulai olahraga dengan intensitas tinggi tanpa persiapan justru dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan.
Prinsip sederhananya: mulai dari kemampuan tubuh saat ini, bukan dari target orang lain.
Setelah tubuh mulai terbiasa, intensitas latihan dapat ditingkatkan secara bertahap.
Kenali Sinyal Tubuh Saat Berolahraga
Olahraga memang membuat tubuh bekerja lebih keras. Napas menjadi lebih cepat dan denyut jantung meningkat merupakan hal yang dapat terjadi.
Namun, ada sejumlah keluhan yang tidak boleh diabaikan.
Jika muncul nyeri dada, pusing, sesak napas yang tidak biasa, atau jantung berdebar secara berlebihan, aktivitas fisik sebaiknya dihentikan.
Keluhan tersebut perlu mendapatkan perhatian medis untuk mengetahui penyebabnya, terutama jika terjadi saat melakukan aktivitas fisik.
Jangan menganggap semua keluhan sebagai tanda bahwa tubuh sedang “ditempa”. Dalam kondisi tertentu, justru tubuh sedang memberikan sinyal untuk berhenti.
Empat Hal Sebelum dan Sesudah Olahraga
Selain skrining bagi mereka yang membutuhkan, ada beberapa kebiasaan dasar yang penting dilakukan ketika berolahraga.
Pertama, pemanasan. Berikan waktu bagi tubuh untuk beradaptasi sebelum masuk ke latihan utama.
Kedua, jangan langsung memaksakan intensitas tinggi. Naikkan beban atau intensitas secara bertahap sesuai kemampuan.
Ketiga, lakukan pendinginan. Setelah latihan, beri kesempatan tubuh untuk kembali secara bertahap ke kondisi istirahat.
Keempat, perhatikan cairan dan istirahat. Tubuh membutuhkan asupan cairan yang cukup dan waktu pemulihan agar latihan tidak justru menjadi beban.
Olahraga Bukan Adu Cepat
Pada akhirnya, tujuan olahraga bukan sekadar menyelesaikan latihan paling berat atau mengikuti pencapaian orang lain.
Olahraga seharusnya menjadi kebiasaan yang bisa dilakukan secara konsisten dan sesuai kemampuan tubuh.
Jadi, jika baru ingin kembali berolahraga setelah lama berhenti, tidak perlu langsung “gaspol”.
Kenali kondisi tubuh, mulai secara bertahap, perhatikan sinyal yang muncul, dan lakukan pemeriksaan jika memiliki faktor risiko atau riwayat penyakit tertentu.
Sebab, olahraga yang baik bukan hanya tentang seberapa keras tubuh bekerja, tetapi juga tentang seberapa baik kita memahami batas dan kebutuhan tubuh sendiri.***



Tinggalkan Balasan