GUGAH – Staf Khusus Menteri Agama, Gugun Gumilar, membantah narasi viral di media sosial yang menyebut Pondok Modern Darussalam Gontor menegur Presiden Prabowo Subianto melalui pembacaan Surah Al-Ahzab ayat 70-73 saat peringatan 100 tahun Gontor.
Menurut Gugun, narasi berjudul “Gontor Menegur Prabowo dengan Al-Qur’an” merupakan hoaks yang memelintir makna ayat Al-Qur’an untuk kepentingan politik.
“Ini adalah hoaks murahan dan fitnah yang dibungkus agama. Jangan bawa-bawa nama besar Gontor untuk framing politik jahat,” tegas Gugun, dikutip pada Selasa (29/9/2026).
Ia menjelaskan, pembacaan Surah Al-Ahzab merupakan doa dan nasihat universal bagi setiap pemimpin agar senantiasa berkata benar (qaulan sadida), bukan sindiran kepada Presiden Prabowo.
“Saya pastikan, Gontor menyambut Presiden Prabowo dengan penuh hormat. Lantunan Al-Ahzab itu adalah doa dan nasihat universal untuk setiap pemimpin agar senantiasa berkata benar, bukan tamparan seperti yang dipelintir,” ujarnya.
Gugun juga menepis anggapan bahwa istilah qaulan sadida ditujukan untuk menyindir Presiden. Menurutnya, berbagai kebijakan pemerintah justru menunjukkan komitmen dalam penegakan hukum, di antaranya pengambilalihan sekitar lima juta hektare kawasan hutan negara yang sebelumnya dikuasai secara ilegal, penindakan terhadap dugaan mafia migas, pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu termasuk pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga penyelamatan aset negara hasil korupsi senilai puluhan triliun rupiah.
Terkait penindakan korupsi di program MBG, Gugun menegaskan tidak ada perlindungan bagi pelaku.
“Ketika ada oknum yang korupsi, bahkan jika itu orang dekat Presiden sekalipun, perintah Presiden jelas: sikat habis, jangan pandang bulu,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah juga disebut terus memperluas akses pendidikan melalui renovasi sekolah dan madrasah, pembangunan Sekolah Rakyat berasrama, program kuliah gratis, serta menyiapkan pembentukan Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU) untuk mengelola potensi wakaf, infak, dan sedekah demi memperkuat kemandirian ekonomi umat.
Di akhir pernyataannya, Gugun mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang mengatasnamakan agama.
“Kalau mau kritik, kritik dengan data, dengan prestasi. Rakyat sudah cerdas. Jangan jual ayat untuk kebencian,” tutur Gugun.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa potongan video atau simbol keagamaan dapat dengan mudah dipelintir menjadi narasi politik di media sosial.
Karena itu, publik perlu memeriksa konteks dan sumber informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya agar tidak ikut memperkuat penyebaran hoaks dan polarisasi.***



Tinggalkan Balasan