IHSG Dibayangi Keputusan The Fed, Lonjakan Harga Minyak Perbesar Tekanan Pasar

|

GUGAH – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu (16/9/2026), seiring meningkatnya kehati-hatian investor menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Sentimen negatif juga datang dari lonjakan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan di Timur Tengah dan Afrika Utara yang memicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat.

Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (15/9/2026) IHSG ditutup melemah 73,54 poin atau 1,12 persen ke level 6.461,15. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan indeks bergerak di kisaran 6.290-6.371 pada awal perdagangan hari ini.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan pelaku pasar memilih menahan transaksi menjelang hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan Kamis (17/9/2026) dini hari.

Baca Juga:  Nilai Tukar Rupiah Cetak Rekor Lagi

“Untuk market Indonesia, para pelaku investor berada dalam posisi wait and see, apalagi menjelang keputusan FOMC khususnya terkait Fed Rate,” kata Nafan dalam keterangannya, Rabu (16/9/2026).

Menurut dia, perhatian pasar tertuju pada peluang kenaikan suku bunga acuan The Fed sebesar 25 basis poin. Ekspektasi tersebut menguat setelah harga energi kembali melonjak akibat terganggunya pasokan minyak global.

Tekanan datang dari penutupan pipa minyak utama di Arab Saudi akibat serangan kelompok Houthi. Di saat yang sama, Libya juga mengalami gangguan pasokan setelah jalur pipa Hamada–Zawiya ditutup sehingga menghentikan produksi dari tiga ladang minyak utama.

Baca Juga:  IHSG Sempat Menguat, Lalu Berbalik Melemah di Awal Perdagangan

Kondisi tersebut mendorong harga minyak Brent naik 2,63 persen menjadi USD108,46 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,03 persen ke level USD105,48 per barel.

Kenaikan inflasi energi akibat gangguan pasokan itu memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan Fed Rate sebesar 25 basis poin, dengan probabilitas mencapai 92,3 persen.

Bagi pasar saham Indonesia, prospek suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi mendorong investor mengurangi aset berisiko di negara berkembang sehingga menekan pergerakan IHSG.

Baca Juga:  Breaking: IHSG Dibuka Anjlok 3,57 Persen, Sentuh Level Terendah dalam Lima Tahun

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga masih menunggu arah kebijakan fiskal di bawah Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Investor, menurut Nafan, masih mencermati komitmen pemerintah dalam menjaga kredibilitas fiskal, defisit APBN, serta strategi pengelolaan utang.

“Sentimen positif dari pergantian Menkeu belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal dan aksi jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar,” katanya.

Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG masih akan ditentukan oleh kemampuannya bertahan di atas level 6.370. Jika level tersebut mampu dipertahankan, indeks berpeluang menguat menuju kisaran 6.541-6.581. Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi bergerak melemah ke area 6.290-6.370.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran