GUGAH — Semangat gotong royong, kemanusiaan, keberagaman, dan kepedulian terhadap lingkungan mewarnai peringatan Hari Lahir (Harlah) Gus Dur yang digelar Gusdurian Purwakarta, Sabtu (5/9/2026).
Mengusung tema “Agama untuk Semesta”, kegiatan yang dipusatkan di Rest Area KM 72A, Desa Cigelam, Kecamatan Babakan Cikao, Kabupaten Purwakarta, itu tidak dikemas sebatas seremoni. Peringatan diisi dengan berbagai aksi nyata, mulai dari kerja bakti, layanan kesehatan dan servis motor gratis, doa lintas iman, hingga diskusi mengenai keadilan ekologis.
Sejak pagi, peserta mengikuti kegiatan ngosrek bersama sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekaligus menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan cek kesehatan gratis dan servis motor gratis yang ditujukan bagi masyarakat. Kehadiran layanan tersebut menjadi bagian dari upaya Gusdurian menerjemahkan nilai kemanusiaan ke dalam kegiatan yang dapat dirasakan secara langsung.
Semangat keberagaman kemudian tampak dalam doa lintas iman. Masyarakat dari berbagai latar belakang keyakinan dipertemukan dalam ruang bersama untuk mendoakan kedamaian, kebaikan, serta keberlangsungan kehidupan.
Pembahasan mengenai relasi agama dan lingkungan dilanjutkan melalui Majelis Keadilan Ekologi. Forum tersebut menghadirkan KH Yayan Ahmad Mustofa, KH Akhfaz Fauzi, dan Nono dari Bank Sampah Penulisan sebagai pemantik diskusi.
Majelis Keadilan Ekologi mengajak peserta melihat persoalan lingkungan tidak semata sebagai isu kebersihan atau kelestarian alam. Persoalan ekologis juga berkaitan dengan keadilan, keberlangsungan kehidupan, serta tanggung jawab manusia terhadap sesama dan generasi mendatang.
Koordinator Gusdurian Purwakarta, Dion Murdiono, mengatakan peringatan Harlah Gus Dur menjadi momentum untuk menerjemahkan gagasan dan nilai yang diperjuangkan Gus Dur ke dalam tindakan nyata.
“Kami ingin mengenang Gus Dur dengan cara menghidupkan nilai yang beliau perjuangkan. Agama harus memberi manfaat bagi kehidupan,” ujar Dion.
Menurut dia, keberagaman juga perlu dirawat melalui ruang-ruang perjumpaan yang terbuka dan setara.
“Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Justru menjadi ruang untuk belajar dan bekerja bersama,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana, Robih, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan sengaja dirancang agar peringatan Harlah Gus Dur memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Kami ingin peringatan ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi hadir dalam bentuk aksi nyata,” ungkap Robih.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang perjumpaan sekaligus kolaborasi antara masyarakat, komunitas, lembaga, dan berbagai pihak.
“Semoga semangat Gus Dur terus hidup melalui kerja-kerja kecil yang dilakukan bersama,” ujarnya.
Di balik pelaksanaan kegiatan tersebut, Yos Sudarso turut menjadi salah satu penggerak yang mengawal rangkaian acara sejak tahap persiapan hingga selesai.
Menurut Yos, memperingati Gus Dur tidak cukup dilakukan dengan mengenang sosok dan pemikirannya, tetapi harus diwujudkan melalui keterlibatan serta kerja bersama.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita terus bergerak. Nilai-nilai Gus Dur harus hidup dalam tindakan,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersamaan di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang beragam.
“Kita rawat kebersamaan ini. Dari sini kita bisa terus bergerak dan memberi manfaat,” tambahnya.
Peringatan Harlah Gus Dur tersebut terlaksana melalui kolaborasi dengan sejumlah dinas, lembaga, komunitas, sponsor, serta berbagai pihak lainnya.
Kolaborasi lintas sektor itu menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan berbagai layanan dan kegiatan bagi masyarakat. Pada saat yang sama, sinergi tersebut memperlihatkan bahwa kerja kemanusiaan dan kepedulian ekologis membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Rangkaian kegiatan di Rest Area KM 72A pun menjadi lebih dari sekadar peringatan hari lahir seorang tokoh. Momentum tersebut menjadi ruang untuk menghidupkan kembali gagasan Gus Dur melalui tindakan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dari membersihkan lingkungan, memberikan layanan kesehatan dan servis kendaraan, hingga mempertemukan masyarakat dalam doa lintas iman dan diskusi ekologis, seluruh rangkaian bermuara pada satu pesan: agama semestinya hadir untuk kehidupan dan memberi manfaat bagi semesta.
Melalui momentum tersebut, Gusdurian Purwakarta berupaya memastikan nilai-nilai Gus Dur tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi terus tumbuh melalui kerja-kerja kemanusiaan, keberagaman, keadilan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan.***



Tinggalkan Balasan