GUGAH — Ruang silaturahmi antara alumni dan kader aktif tidak lagi sebatas ajang bernostalgia. Majelis Alumni Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Tasikmalaya menegaskan komitmennya untuk menjadi jembatan strategis dalam membukakan peluang kolaborasi dan pengembangan diri bagi para kader.
Hal tersebut mengemuka dalam sesi Talkshow Bersama Majelis Alumni di Gedung PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (6/9/2026). Dipandu dua kader aktif, Alwi Sihab dan Karina Rahayu, forum ini menghadirkan empat demisioner lintas periode: M. Sandra Firdaus, S.Ip. (Ketua IPNU 2010–2012), Fahmi Sidik, S.E. (Ketua IPNU 2012–2014), Fikri Nursyamsi, S.E. (Ketua IPNU 2014–2016), dan Anbiyani Nurpatwa, S.Pd. (Bendahara IPPNU 2021–2023).
Dalam forum tersebut, M. Sandra Firdaus menekankan bahwa jejaring di luar organisasi sangat terbuka lebar untuk dimanfaatkan oleh kepengurusan hari ini.
“Banyak sekali peluang yang dapat dikolaborasikan dengan IPNU IPPNU, tentu PC IPNU IPPNU Kabupaten Tasikmalaya harus mampu bergerak cepat untuk mengambil peluang tersebut,” tegas Sandra.
Menyambung hal itu, Fahmi Sidik mendorong agar kader tidak bersikap pasif dalam membangun jejaring komunikasi.
“IPNU IPPNU itu harus proaktif, jangan hanya menunggu arahan. Bangun komunikasi dan koordinasi yang baik kepada alumni ataupun berbagai pihak, khususnya dalam memberikan perhatian terhadap pelajar melalui IPNU IPPNU,” ungkap Fahmi.
Tak hanya soal jejaring eksternal, para narasumber juga menyoroti pentingnya keberanian eksekusi di tingkat internal. Fikri Nursyamsi mengingatkan kader agar tidak ragu mewujudkan ide-ide kreatif menjadi aksi nyata yang berdampak.
“Jangan sampai gagasan hanya berhenti menjadi keinginan. Setiap ide harus berani diperjuangkan dan diwujudkan,” pesan Fikri.
Di sisi lain, dimensi kesadaran berkhidmat di bawah naungan Nahdlatul Ulama tetap menjadi fondasi utama. Anbiyani Nurpatwa mengingatkan bahwa pengorbanan di organisasi pelajar NU selalu membawa keberkahan jangka panjang.
“Satu hal yang paling penting bagi IPNU IPPNU adalah kesadaran. Sadar bahwa kita sedang berjuang dalam organisasi naungan Nahdlatul Ulama, dan ini merupakan amanah besar. Maka dari itu, jalankan tanggungjawab dengan baik dan yakin bahwa segala sesuatu yang telah dikorbankan untuk kemajuan organisasi IPNU IPPNU keberkahan dan manfaatnya akan kita rasakan baik saat ini ataupun dimasa yang akan datang,” tutur Anbiyani.
Sebagai penutup, Fahmi Sidik kembali menegaskan peran substantif Majelis Alumni yang siap mengawal proses kedewasaan dan karir para kader ke depan.
“Alumni bukan hanya menjadi tempat untuk meminta arahan, tetapi juga dapat menjadi jembatan bagi kader dalam melanjutkan proses, menemukan ruang pengembangan diri, serta mempersiapkan langkah ke depan,” pungkasnya.***



Tinggalkan Balasan