GUGAH — Persoalan pemuda di desa tidak selalu berhenti pada soal minimnya lapangan kerja. Ketika ruang untuk belajar, berkarya, berwirausaha, dan berorganisasi terbatas, potensi generasi muda pun berisiko tidak berkembang.
Persoalan itulah yang menjadi perhatian Andika, calon Ketua Karang Taruna Desa Karyamekar. Ia menawarkan gagasan agar Karang Taruna tidak berhenti sebagai organisasi yang aktif ketika ada kegiatan seremonial, tetapi hadir sebagai wadah yang mampu menjawab persoalan sosial sekaligus membuka peluang produktif bagi pemuda.
Menurut Andika, tantangan seperti kemiskinan, pengangguran, rendahnya aktivitas produktif, hingga minimnya ruang aktualisasi pemuda saling berkaitan. Karena itu, pendekatannya tidak cukup hanya dengan membuat kegiatan kepemudaan sesekali.
“Pemuda kita memiliki potensi yang luar biasa. Jika diarahkan dengan tepat melalui pelatihan keterampilan, kewirausahaan, dan kegiatan positif, kita tidak hanya menekan angka pemuda kurang produktif, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam mengentaskan kemiskinan di desa kita,” ujar Andika.
Jangan Hanya Ramai Saat Ada Acara
Gagasan Andika berangkat dari satu pertanyaan sederhana: apa manfaat Karang Taruna bagi pemuda ketika tidak sedang ada acara?
Bagi Andika, keberadaan Karang Taruna seharusnya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Organisasi kepemudaan perlu memiliki program yang membantu pemuda memperoleh keterampilan, membangun usaha, mengembangkan bakat, sekaligus terlibat dalam penyelesaian persoalan sosial di lingkungannya.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui visi “Karang Taruna yang Aktif, Kreatif, Mandiri, dan Berdaya Saing untuk Desa Karyamekar.”
Ada empat fokus yang ditawarkan.
Pertama, memperluas keterlibatan pemuda dalam pembangunan sosial dan ekonomi desa. Pemuda tidak hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan, tetapi juga sebagai penggerak dan pelaksana program.
Kedua, membuka ruang pengembangan keterampilan dan kewirausahaan. Pelatihan kerja, pengembangan UMKM pemuda, hingga pemanfaatan kreativitas dan bakat diharapkan dapat menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi.
Ketiga, memperkuat solidaritas sosial. Karang Taruna diharapkan tidak hanya berbicara tentang ekonomi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap warga yang menghadapi persoalan sosial dan kesenjangan ekonomi.
Keempat, mengukur organisasi dari dampaknya. Program sosial dan pemberdayaan masyarakat harus diarahkan agar menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung warga.
Tantangan Terbesarnya Bukan Sekadar Program
Namun, gagasan tersebut juga membawa tantangan tersendiri. Membuat pelatihan atau kegiatan baru relatif mudah. Yang jauh lebih sulit adalah memastikan program tersebut berkelanjutan dan benar-benar menghasilkan perubahan.
Karena itu, ukuran keberhasilan Karang Taruna ke depan bukan semata-mata berapa banyak kegiatan yang digelar, melainkan berapa banyak pemuda yang kemudian memiliki keterampilan, mendapatkan peluang ekonomi, membangun usaha, atau terlibat aktif menyelesaikan persoalan di lingkungannya.
Di titik inilah Andika ingin membawa perubahan cara pandang terhadap Karang Taruna.
Ia mengusung slogan “Satu Tujuan, Satu Langkah, untuk Karyamekar”, dengan semangat mengajak pemuda keluar dari zona nyaman dan menjadikan kreativitas sebagai modal pembangunan desa.
“Bersama pemuda membangun desa” bukan sekadar slogan, tetapi diarahkan menjadi gerakan agar pemuda Karyamekar memiliki ruang untuk tumbuh sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pada akhirnya, pertarungan dalam pemilihan Ketua Karang Taruna bukan hanya soal siapa yang mendapatkan posisi. Yang jauh lebih penting adalah gagasan seperti apa yang akan dibawa dan seberapa jauh organisasi tersebut mampu menjawab persoalan nyata pemuda serta masyarakat Desa Karyamekar.
Sebab, Karang Taruna yang kuat bukan yang paling sering menggelar acara, melainkan yang mampu membuat pemudanya lebih produktif, mandiri, dan punya masa depan.***



Tinggalkan Balasan