GUGAH – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) PP BEMPTNU Se-Nusantara yang dijadwalkan berlangsung pada 22–24 September 2026 di Wisma Kemensos, Kabupaten Cianjur, muncul catatan dari daerah tuan rumah. BEM PTNU Cianjur menilai proses persiapan agenda nasional tersebut belum dibangun melalui komunikasi dan koordinasi yang memadai dengan struktur organisasi di tingkat daerah.
Koordinator Daerah BEMPTNU Cianjur, Fauzi Rohmat, menyampaikan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan penyelenggaraan Muspimnas. Namun, ia menyoroti mekanisme komunikasi yang dinilai belum melibatkan BEMPTNU Cianjur secara proporsional sebagai bagian dari struktur organisasi.
Menurut Fauzi, organisasi mahasiswa tidak hanya membutuhkan agenda yang berjalan sukses secara seremonial, tetapi juga proses yang mampu memperkuat rasa memiliki seluruh elemen organisasi.
“Kami tidak mempersoalkan Muspimnasnya, tetapi kami menyayangkan proses komunikasi dan koordinasi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Fauzi dalam keterangannya diterima Senin (7/9/2026).
Ia menegaskan, komunikasi bukan sekadar memenuhi aspek administratif, melainkan menjadi fondasi penting dalam menjaga soliditas organisasi. Setiap agenda nasional yang dilaksanakan di daerah, kata dia, semestinya disiapkan melalui koordinasi terbuka dengan pengurus daerah agar seluruh unsur merasa dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Fauzi berharap PP BEMPTNU Se-Nusantara dapat melakukan evaluasi terhadap proses persiapan Muspimnas dan membuka ruang komunikasi yang lebih baik dengan BEMPTNU Cianjur. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menghindari kesalahpahaman sekaligus menjaga hubungan kelembagaan yang sehat.
Komunikasi Menentukan Kualitas Kepemimpinan Organisasi
Persoalan yang disampaikan BEMPTNU Cianjur menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah agenda nasional tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kemegahan pelaksanaannya. Lebih dari itu, kualitas tata kelola organisasi menjadi penentu utama lahirnya kepercayaan antarstruktur.
Dalam organisasi kemahasiswaan, komunikasi yang inklusif merupakan modal untuk membangun kepemimpinan kolektif. Ketika struktur daerah merasa dilibatkan sejak tahap perencanaan, agenda nasional tidak hanya menjadi milik pengurus pusat, tetapi menjadi gerakan bersama yang memperkuat organisasi secara keseluruhan.
Sebaliknya, minimnya koordinasi berpotensi menimbulkan kesan bahwa daerah hanya berperan sebagai pelaksana teknis, bukan mitra strategis dalam membangun arah organisasi. Karena itu, evaluasi terhadap pola komunikasi menjadi bagian penting agar Muspimnas tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga memperkuat budaya musyawarah dan kebersamaan yang menjadi ruh gerakan mahasiswa Nahdlatul Ulama.
Hingga pernyataan ini disampaikan, belum ada tanggapan resmi dari PP BEMPTNU Se-Nusantara terkait masukan yang disampaikan Koordinator Daerah BEMPTNU Cianjur. Sebagai bagian dari prinsip keberimbangan pemberitaan, Gugah.co membuka ruang bagi PP BEMPTNU Se-Nusantara untuk memberikan klarifikasi atau penjelasan atas persoalan tersebut.***



Tinggalkan Balasan