Ruang Damai Bahas Makna Kemerdekaan dalam Keberagaman

|

GUGAH — Momentum Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia harus menjadi titik balik dekonstruksi makna kemerdekaan – kebebasan di tengah disrupsi teknologi.

Menjawab tantangan tersebut, Ruang Damai menggelar webinar nasional “Bincang Damai” bertajuk “Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama” melalui platform Zoom Meeting pada Senin (17/8/2026).

Diskusi multidimensional ini sekaligus menandai perayaan lima tahun kiprah Ruang Damai dalam lanskap advokasi toleransi dan perdamaian di Indonesia melalui rangkaian Ruang Damai Exhibition 2026.

Webinar ini mempertemukan perspektif akademis dan akar rumput lintas generasi, dengan menghadirkan Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, serta Ketua Umum Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI), Agustina.

Antusiasme intelektual publik terlihat dari hadirnya ratusan partisipan lintas iman, aktivis, dan akademisi dari berbagai universitas papan atas seperti UI, UNPAD, UIN, dan USU, yang mewakili bentangan geografis dari Aceh hingga Maluku.

Baca Juga:  Lampu Kuning Pesona Bukit Cianjur: Antara Kejar Target Jual dan 'Dosa' Lingkungan yang Terabaikan

Membuka ruang diskursus, Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, memperkenalkan gagasan progresif mengenai pentingnya “Kemerdekaan Kognitif” (Cognitive Freedom) bagi warga negara di era kecerdasan buatan (AI).

Zainal menegaskan bahwa musuh kedaulatan modern bukan lagi kolonialisme fisik, melainkan jeratan algoritma media sosial yang melanggengkan ruang gema (echo chamber) dan memperuncing polarisasi sosial.

“Kemerdekaan sejati di era modern adalah ketika perbedaan identitas tidak lagi dijadikan komoditas digital untuk memecah belah, melainkan sebagai algoritma sosial yang memperkaya inovasi bangsa. Kita harus bertransformasi dari sekadar merawat slogan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ menjadi penggerak modal sosial aktif (active social capital) guna merespons krisis iklim global hingga transformasi ekonomi digital,” ujar Zainal Abidin dalam sambutannya.

Baca Juga:  HUT ke-81 RI, Sachrudin: Kemerdekaan Harus Terasa dalam Kehidupan Masyarakat

Ia juga menekankan perlunya inklusivitas digital bagi komunitas adat dan penyandang disabilitas agar integrasi teknologi tidak menggerus identitas kultural lokal.

Selaras dengan hal tersebut, Prof. Semiarto Aji Purwanto membedah proses historis “Menjadi Indonesia” yang bersifat dinamis sejak Sumpah Pemuda 1928, reformasi 1998, hingga transisi kultural di era kecerdasan buatan.

Dari kacamata antropologi, ia menekankan bahwa toleransi tidak bisa lahir dari pasifitas, melainkan dari keterlibatan aktif.

“Kemerdekaan harus berarti ruang untuk menjadi diri sendiri. Tentu untuk mewujudkan toleransi dengan hadir secara penuh dalam interaksi, perjumpaan, dan kerja bersama lintas identitas,” papar Prof. Semiarto.

Baca Juga:  Purwanto Bilang Calon Murid Baru Bisa Tolak Hasil PCMB SPMB 2026

Dari sudut pandang kepemudaan Gen Z, Agustina selaku Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI menawarkan resolusi spiritualitas kontemporer dalam menavigasi derasnya arus informasi. Ia menawarkan konsep Brahmavihara dari ajaran Buddha sebagai jangkar moral digital.

Melalui aktualisasi nilai Metta (cinta kasih), Karuna (welas asih), Mudita (simpati), dan Upekkha (keseimbangan batin), generasi muda diharapkan mampu menyaring provokasi siber dengan kejernihan berpikir.

Webinar Bincang Damai ini berhasil merumuskan tesis penting: bahwa kemerdekaan Indonesia hari ini adalah sebuah proyek sosial yang belum selesai (an ongoing project).

Ruang Damai menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi ruang-ruang perjumpaan inklusif demi mengubah perbedaan menjadi sebuah kerja bersama yang kolaboratif dan emansipatif.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran