GUGAH – Polri terus mendorong transformasi pelayanan publik berbasis digital untuk mempercepat respons terhadap berbagai potensi gangguan keamanan. Salah satu langkah yang dikembangkan adalah sistem manajemen pengaduan kontinjensi yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Inovasi tersebut dikembangkan melalui proyek perubahan bertajuk “Membangun Manajemen Pengaduan Kontinjensi Responsif Terintegrasi sebagai Resiliensi Keamanan Nasional”, yang digagas Kombes Pol Hari Brata.
Konsep ini menempatkan pengaduan masyarakat bukan sekadar sebagai laporan administratif, tetapi sebagai sumber informasi strategis yang dapat dianalisis untuk mendukung deteksi dini, pemetaan situasi, hingga pengambilan keputusan operasional.
Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (17/8/2026), Hari Brata mengatakan sistem pengelolaan pengaduan harus mampu mengikuti perkembangan ancaman yang semakin dinamis dan bergerak cepat.
“Pengaduan masyarakat harus kita kelola bukan hanya sebagai laporan yang masuk, tetapi menjadi informasi strategis yang mendukung deteksi dini dan mempercepat respons Polri. Sistemnya harus responsif, terintegrasi, real-time, dan mendukung pengambilan keputusan operasional secara presisi,” ujar Hari Brata.
Dashboard Real-Time Terintegrasi
Pengembangan sistem tersebut melahirkan prototype Dashboard Monitoring Pengaduan Kontinjensi Real-Time. Dashboard ini dirancang sebagai sistem terpusat yang menyempurnakan platform Daily Operating Reporting System (DORS) yang sebelumnya telah digunakan Polri.
Melalui integrasi AI dan pengelolaan data secara terpusat, sistem tersebut dirancang untuk mendukung sejumlah kebutuhan operasional.
Pertama, mengidentifikasi dan mengolah kejadian kontinjensi, termasuk pengaduan darurat di luar kategori kejahatan konvensional yang membutuhkan penanganan segera.
Kedua, mempercepat mekanisme dispatch, sehingga pengerahan personel ke lokasi kejadian dapat dilakukan lebih cepat sebagai bagian dari mitigasi awal dan pencegahan eskalasi.
Ketiga, mengintegrasikan berbagai kanal layanan, termasuk Call Center 110, Dumas Presisi, dan Command Center Polri, sehingga informasi dari sejumlah sumber dapat terkonsolidasi dalam satu sistem.
Teknologi Harus Diikuti Kesiapan Personel
Transformasi digital tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan sistem teknologi. Polri juga menyiapkan sumber daya manusia dan regulasi agar inovasi dapat diterapkan secara efektif di lapangan.
Workshop pelayanan pengaduan kontinjensi serta penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) Quick Response dilakukan untuk menyamakan pola kerja dan pemahaman personel dalam menangani laporan masyarakat.
Hari Brata menekankan bahwa teknologi hanya akan efektif apabila dibarengi kesiapan personel dan koordinasi lintas fungsi.
“Teknologi adalah instrumen. Yang tidak kalah penting adalah kesiapan personel, kesamaan pola kerja, serta kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Semua elemen harus bergerak dalam satu sistem agar respons terhadap laporan masyarakat benar-benar sigap,” katanya.
Dari Reaktif Menuju Prediktif
Penguatan analisis pengaduan berbasis AI diharapkan mengubah pola penanganan laporan masyarakat dari sekadar reaktif menjadi lebih prediktif dan preventif.
Dengan data yang terintegrasi dan dianalisis secara cepat, laporan masyarakat dapat menjadi bagian dari sistem peringatan dini untuk membaca potensi gangguan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Pada akhirnya, transformasi tersebut diarahkan bukan hanya untuk mempercepat pelayanan publik, tetapi juga memastikan setiap laporan masyarakat memiliki nilai strategis dalam menjaga keamanan.***
gugah.co | Menggerakkan Perubahan



Tinggalkan Balasan