GUGAH — Sebanyak 1.768 perempuan dari 35 kecamatan berkumpul di Aula Gedung Islamic Centre Garut, Sabtu (15/8/2026).
Mereka datang bukan sekadar untuk menyaksikan pergantian kepengurusan.
Pelantikan Pimpinan Cabang Muslimat Nahdlatul Ulama (PC Muslimat NU) Kabupaten Garut periode khidmat 2026–2031 sekaligus menjadi penanda dimulainya agenda lima tahun untuk memperkuat kemandirian perempuan, pendidikan keluarga, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban”, pelantikan dirangkaikan dengan Rapat Kerja Cabang. Forum tersebut menjadi ruang untuk menerjemahkan visi organisasi ke dalam program yang lebih konkret dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Ukuran keberhasilan kepengurusan baru tidak lagi cukup dilihat dari banyaknya kegiatan organisasi. Tantangannya adalah bagaimana jaringan Muslimat NU yang tersebar hingga tingkat kecamatan dapat menjadi kekuatan yang benar-benar menghadirkan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.
Dari Pelantikan ke Kerja Nyata
Rangkaian kegiatan sejak pagi hingga sore tidak hanya berisi agenda internal organisasi.
Sebanyak 11 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU turut membuka bazar UMKM. Kegiatan tersebut juga melibatkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang didukung Dinas Kesehatan Kabupaten Garut.
Kehadiran bazar dan layanan kesehatan memberikan gambaran tentang arah khidmah yang ingin diperkuat.
Muslimat NU tidak hanya berbicara tentang konsolidasi kader, tetapi juga berupaya membuka ruang ekonomi bagi perempuan sekaligus mendekatkan layanan dasar kepada masyarakat.
Di titik inilah pelantikan mendapatkan makna yang lebih luas. Organisasi tidak berhenti pada seremoni, tetapi mulai menghubungkan struktur dan kader dengan kebutuhan nyata warga.
Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Garut menempatkan peningkatan kualitas perempuan sebagai salah satu fondasi penting dalam keberlanjutan organisasi dan pembangunan masyarakat.
Penguatan pendidikan keluarga, kesehatan perempuan dan anak, kegiatan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi menjadi sejumlah bidang yang diarahkan untuk diperkuat selama masa khidmat 2026–2031.
Tantangan Lima Tahun: Mengubah Jaringan Menjadi Kekuatan
Muslimat NU memiliki modal sosial yang besar. Struktur organisasi yang menjangkau 35 kecamatan menjadi kekuatan yang dapat digunakan untuk menjangkau masyarakat hingga tingkat akar rumput.
Namun, jaringan yang luas juga menghadirkan tantangan.
Kaderisasi, koordinasi, keberlanjutan program, dan kemampuan mengukur dampak menjadi pekerjaan yang harus dijawab kepengurusan baru.
Karena itu, rapat kerja tidak semestinya hanya menghasilkan daftar kegiatan tahunan. Forum tersebut menjadi kesempatan untuk memastikan setiap program memiliki sasaran yang jelas dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Bidang pendidikan, kesehatan ibu dan anak, penguatan karakter, serta ekonomi keluarga menjadi ruang pengabdian yang membutuhkan kerja konsisten, bukan sekadar kegiatan sesaat.
PCNU dan Pemerintah Daerah Beri Dukungan
Penguatan peran Muslimat NU Garut juga mendapat dukungan dari jajaran PCNU Kabupaten Garut.
Rais Syuriyah PCNU Garut, KH. Rd. Amin Muhyiddin Maolani, hadir bersama jajaran PCNU. Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Garut, KH. Atjeng Abdul Wahid, juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran jajaran PCNU bersama unsur lembaga dan badan otonom NU menunjukkan pentingnya sinergi antarstruktur dalam memperkuat gerakan NU di tingkat daerah.
Dukungan serupa datang dari Pemerintah Kabupaten Garut. Bupati Garut Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng., IPU hadir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Kehadiran pemerintah daerah menjadi bagian dari dukungan terhadap agenda Muslimat NU, terutama yang berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan keluarga.
Perempuan Diminta Tidak Ragu Mengambil Peran
Ketua PW Muslimat NU Jawa Barat, R. Ela M. Giri Komala, dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya kepercayaan diri kader dalam menjalankan amanat organisasi.
Ruang pengabdian Muslimat NU, menurutnya, terbuka luas, mulai dari pendidikan, kesehatan, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.
Isu seperti pencegahan stunting dan peningkatan kualitas perempuan serta anak juga menjadi bagian dari ruang kontribusi yang membutuhkan keterlibatan kader.
Pesan tersebut menjadi penting karena sebagian besar persoalan sosial justru berawal dari ruang yang paling dekat dengan perempuan: keluarga.
Ketika perempuan memiliki pengetahuan, kesehatan, kapasitas ekonomi, dan kepercayaan diri yang lebih kuat, dampaknya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Perubahan itu dapat menjalar ke keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Merawat Tradisi, Menghadapi Perubahan
Lima tahun ke depan akan menjadi ruang pembuktian bagi kepengurusan baru Muslimat NU Garut.
Merawat tradisi tidak berarti mengulang seluruh hal yang pernah dilakukan. Tradisi dapat menjadi pijakan untuk menghadapi perubahan, sementara kemandirian menjadi modal agar organisasi tidak berhenti sebagai penjaga rutinitas.
Dengan dukungan PCNU Garut, pemerintah daerah, Forkopimda, serta jaringan Muslimat NU hingga tingkat kecamatan, kepengurusan 2026–2031 memiliki modal untuk memperluas manfaat organisasi.
Namun, tantangannya tetap sama: memastikan setiap program tidak berhenti sebagai agenda di atas kertas.
Pelantikan telah selesai. Rapat kerja telah dimulai.
Kini, lima tahun masa khidmah itu menunggu untuk dibuktikan melalui kerja yang nyata—seberapa jauh Muslimat NU Garut mampu membuat perempuan lebih berdaya, keluarga lebih kuat, dan masyarakat merasakan manfaat keberadaan organisasi.
Tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban” akhirnya bukan sekadar slogan.
Ia adalah pekerjaan rumah lima tahun ke depan.***



Tinggalkan Balasan