GUGAH — Audiensi antara Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kecamatan Cisurupan dan pengelola Gedung Perlindungan Sosial Anak (PSA) di Kabupaten Garut belum sepenuhnya meredakan kekecewaan terkait penggunaan fasilitas untuk kegiatan Paskibra.
Meski pihak PSA menyatakan fasilitas tetap dapat digunakan dengan mengikuti tata tertib dan mekanisme yang berlaku, PPI Cisurupan memutuskan memindahkan lokasi karantina Paskibra ke tempat lain.
Keputusan tersebut disampaikan setelah audiensi yang berlangsung di Gedung PSA, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Senin (10/8/2026).
Persoalan bermula dari perubahan komunikasi dan kebijakan terkait penggunaan sejumlah fasilitas PSA. PPI Cisurupan menyebut fasilitas tersebut selama ini telah digunakan untuk mendukung kegiatan Paskibra selama kurang lebih 42 tahun.
Dalam audiensi, PPI juga menyampaikan keberatan terhadap informasi mengenai kegiatan Paskibra yang disebut kerap meninggalkan sampah setelah menggunakan fasilitas PSA.
PPI menilai persoalan kebersihan dan tata tertib semestinya dapat diselesaikan melalui komunikasi serta evaluasi bersama, tanpa mengesampingkan hubungan yang telah terbangun selama puluhan tahun.
Audiensi berlangsung cukup alot. Kedua pihak menyampaikan pandangan masing-masing mengenai penggunaan fasilitas PSA untuk kegiatan Paskibra.
Pihak PSA pada prinsipnya menyatakan kegiatan Paskibra tetap dapat menggunakan fasilitas yang tersedia, sepanjang memenuhi tata tertib serta mekanisme penggunaan gedung yang telah ditetapkan.
Namun, penjelasan tersebut belum mengubah keputusan PPI Cisurupan untuk memindahkan lokasi karantina Paskibra pada kegiatan kali ini.
Perwakilan PPI Cisurupan, Agum Gustiawan, mengatakan persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan tempat, tetapi juga menyangkut komunikasi serta penghargaan terhadap proses pembinaan generasi muda yang selama ini dilakukan melalui kegiatan Paskibra.
Menurut Agum, Paskibra memiliki fungsi pembinaan yang menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, nasionalisme, kepemimpinan, dan semangat pengabdian kepada generasi muda.
Karena itu, ia berharap setiap persoalan yang berkaitan dengan kegiatan Paskibra dapat diselesaikan melalui komunikasi terbuka dan saling menghargai.
“Dikarenakan kami kecewa, izinkan kami untuk kali ini tidak memakai Gedung PSA untuk karantina Paskibra. Kami sudah menyiapkan tempat lain, walaupun fasilitasnya jauh lebih sederhana,” kata Agum.
PPI Cisurupan kemudian memilih tetap menjalankan agenda karantina dengan memanfaatkan lokasi pengganti yang telah dipersiapkan. Kendati fasilitas di tempat baru dinilai lebih sederhana, PPI menegaskan keberlangsungan pembinaan dan kesiapan anggota Paskibra tetap menjadi prioritas.
Perintis Paskibra Soroti Pola Komunikasi
Perintis Paskibra, Abah Adjuh, turut menyampaikan kekecewaannya terhadap persoalan yang muncul menjelang pelaksanaan kegiatan.
Ia berharap aturan penggunaan fasilitas pemerintah tetap diterapkan secara proporsional dan tidak menimbulkan kesan mempersulit kegiatan pembinaan generasi muda, khususnya kegiatan yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan kesiapan menjalankan tugas kenegaraan.
Abah Adjuh juga mendorong lembaga pelayanan sosial di lingkungan pemerintah untuk terus mengedepankan semangat pelayanan, nilai-nilai Pancasila, dan jiwa bela negara.
Menurutnya, aturan tetap perlu dihormati. Namun, penerapannya perlu dibarengi komunikasi yang baik agar kepentingan pelayanan publik dan kegiatan pembinaan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Diharapkan Tak Berujung Konflik
Meski terjadi perbedaan pandangan, PPI Cisurupan menegaskan tidak ingin persoalan penggunaan fasilitas berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Audiensi diharapkan menjadi momentum evaluasi untuk memperjelas mekanisme penggunaan fasilitas, tanggung jawab pengguna, tata tertib, serta pola komunikasi antara PPI dan pengelola PSA ke depan.
Pemindahan lokasi karantina juga ditegaskan tidak mengubah fokus utama PPI dalam mempersiapkan anggota Paskibra menjalankan tugasnya.
Pembinaan tetap diarahkan untuk membentuk generasi muda yang disiplin, berkarakter, memiliki rasa tanggung jawab, serta mampu menjalankan tugas kenegaraan dengan sebaik-baiknya.
PPI Cisurupan berharap hubungan yang telah terbangun selama puluhan tahun dapat kembali diperkuat melalui komunikasi yang lebih terbuka.
Perbedaan pandangan yang muncul diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama, bukan menjadi penghalang bagi keberlangsungan pembinaan generasi muda maupun pelayanan sosial kepada masyarakat.***



Tinggalkan Balasan