Dari Lahan Sepi ke Kebun Kakao, Ansor Ciamis Menanam Asa Kemandirian Ekonomi

|

GUGAH — Pagi di Desa Mekarmulya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, tidak selalu dimulai dengan hiruk-pikuk. Di antara hamparan lahan dan udara pedesaan yang masih menyimpan kesunyian, hampir 1.000 batang kakao kini tumbuh berderet.

Pohon-pohon itu masih muda. Belum banyak buah yang bisa dipetik, belum pula menghasilkan rupiah yang berarti. Namun dari lahan seluas kurang lebih satu hektare itu, sebuah gagasan tentang kemandirian ekonomi sedang ditanam pelan-pelan.

Adalah Rodi Susanto, kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Ciamis, yang memulainya.

Alih-alih menunggu datangnya program, Rodi memilih menggerakkan lahan miliknya sendiri. Tanah yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal mulai dibersihkan, ditata, lalu ditanami kakao.

Pekerjaan itu tidak dilakukan sendirian.

Sejumlah sahabat dari Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kecamatan Pamarican ikut turun tangan. Mereka membersihkan lahan, menata tanaman, hingga membantu proses penanaman.

Di tangan mereka, kerja organisasi bertemu dengan kerja-kerja pertanian. Seragam Banser seolah berganti menjadi pakaian kebun; tenaga yang biasanya digunakan untuk kegiatan sosial dan pengabdian, kali ini diarahkan untuk menumbuhkan tanaman yang kelak diharapkan menghasilkan nilai ekonomi.

Baca Juga:  Keren! Kader Ansor Sukabumi Tembus Ajang Nasional Duta Pertanian Muda

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Ciamis, M. Arsyad, melihat rintisan tersebut bukan sekadar proyek perkebunan.

“Rintisan kebun kakao ini adalah wujud nyata bahwa kader Ansor dan Banser tidak hanya siap menjaga ulama dan NKRI, tetapi juga siap menjadi garda terdepan dalam membangun kedaulatan ekonomi dari desa,” ujar Arsyad dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).

Bukan Sekadar Menanam

Kakao yang ditanam Rodi bukan bibit yang dipilih secara serampangan.

Bibit unggul dengan produktivitas tinggi didatangkan langsung dari Lampung, kampung halaman Rodi yang selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kakao di Indonesia.

Ada alasan di balik pilihan tersebut.

Bagi Rodi, membangun kebun bukan sekadar memenuhi lahan dengan tanaman. Sejak awal, ia ingin membangun perkebunan yang memiliki kualitas dan peluang produksi dalam jangka panjang.

Hampir 1.000 pohon kini telah tertanam dan tumbuh di lahan tersebut.

Tetapi cerita ternyata tidak berhenti pada penanaman.

Baca Juga:  Nyawa Tidak Boleh Dikalahkan oleh Amarah Massa

Dari kebun itu, Rodi bersama para sahabat Banser mulai belajar lebih jauh. Mereka tidak hanya merawat tanaman, tetapi juga mempelajari teknik pembibitan dan perbanyakan tanaman secara vegetatif.

Pelan-pelan, ketergantungan terhadap bibit dari luar mulai dipangkas.

“Awalnya kita datangkan bibit langsung dari Lampung. Namun, setelah melalui proses belajar dan adaptasi vegetatif, alhamdulillah sekarang kami sudah bisa memproduksi bibit unggul sendiri,” kata Rodi.

Bagi Rodi, kemampuan memproduksi bibit sendiri justru menjadi bagian penting dari perjalanan kebun tersebut.

Sebab jika kelak jumlah tanaman diperluas, mereka tidak harus selalu kembali mencari bibit dari luar daerah. Lebih jauh lagi, bibit yang dihasilkan dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat sekitar maupun kader lain yang ingin memulai usaha serupa.

“Ke depan, kami berharap langkah ini bisa mempermudah masyarakat sekitar atau kader lain yang ingin ikut membudidayakan kakao tanpa kesulitan mencari bibit berkualitas,” ujarnya.

Menanam Kakao, Menanam Gagasan

Kebun kakao di Mekarmulya mungkin belum bisa disebut sebagai perkebunan besar. Buah yang diharapkan menjadi hasilnya pun masih menunggu waktu.

Baca Juga:  Ketua PW Ansor Bali: Rijalul Ansor adalah Ruh Organisasi

Namun, justru dari proses yang belum selesai itulah gagasan besarnya terlihat.

Ada upaya untuk mengubah cara pandang tentang kaderisasi. Bahwa pengabdian tidak selalu harus berlangsung di ruang rapat, panggung kegiatan, atau forum-forum organisasi.

Kadang, ia dimulai dari sebidang tanah.

Dari cangkul yang mengangkat tanah. Dari bibit yang ditanam. Dari tangan-tangan yang bekerja bersama tanpa banyak suara.

Ansor dan Banser di Ciamis kini mencoba menanam satu hal lain di sela-sela pohon kakao: keberanian untuk membangun kemandirian ekonomi dari desa.

Jika kebun ini kelak tumbuh sebagaimana yang diharapkan, hasilnya bukan hanya biji kakao.

Ada kemungkinan lahirnya petani baru, pembibitan mandiri, jaringan usaha, dan semangat agropreneur di kalangan generasi muda Nahdlatul Ulama di Ciamis.

Sebab setiap pohon yang ditanam hari ini membutuhkan waktu untuk berbuah.

Begitu pula kemandirian ekonomi.

Ia tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari tanah, ketekunan, gotong royong, dan keberanian untuk memulai.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran