Setiap kali MAKESTA selesai dilaksanakan, sering kali muncul rasa puas karena proses kaderisasi dianggap telah berhasil. Padahal, justru pada titik itulah ujian sesungguhnya dimulai. MAKESTA hanya membuka pintu masuk organisasi, bukan jaminan lahirnya kader yang akan bertahan dan tumbuh bersama IPNU maupun IPPNU. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, semangat yang menyala selama kegiatan perlahan akan padam, meninggalkan daftar nama peserta tanpa jejak pengabdian.
Saya meyakini bahwa persoalan terbesar organisasi pelajar hari ini bukan sekadar bagaimana merekrut anggota baru, melainkan bagaimana merawat mereka agar tetap merasa memiliki organisasi. Tidak sedikit kader yang antusias mengikuti MAKESTA, tetapi beberapa bulan kemudian menghilang karena tidak menemukan ruang belajar, ruang bertumbuh, maupun figur yang membimbing. Organisasi akhirnya sibuk menggelar kaderisasi baru setiap tahun, sementara kader lama perlahan berguguran.
Kaderisasi tidak boleh dipahami sebagai agenda seremonial yang selesai ketika sertifikat dibagikan atau penutupan dilaksanakan. Kaderisasi adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan konsistensi. Pengurus memiliki tanggung jawab menghadirkan organisasi sebagai rumah belajar yang hidup, tempat kader baru diberi kesempatan untuk berdiskusi, berlatih memimpin, menyampaikan gagasan, bahkan belajar dari kesalahan.
Dalam konteks itulah Seminar dan Rencana Tindak Lanjut (RTL) menjadi penting. Bukan karena ia sekadar melengkapi rangkaian MAKESTA, tetapi karena menjadi momentum untuk memastikan bahwa kader tidak dibiarkan berjalan sendiri setelah resmi bergabung. RTL seharusnya menjadi titik awal lahirnya budaya pendampingan yang terukur, sehingga setiap kader memahami arah perjuangan organisasi dan menemukan ruang untuk mengembangkan potensinya.
Regenerasi yang sehat tidak bisa diukur dari banyaknya peserta MAKESTA ataupun ramainya dokumentasi di media sosial. Ukurannya jauh lebih sederhana namun lebih bermakna: berapa banyak kader yang tetap aktif satu, dua, bahkan lima tahun setelah mengikuti kaderisasi. Berapa banyak yang kemudian menjadi penggerak di ranting, komisariat, PAC, hingga mampu melahirkan kader-kader berikutnya.
Karena itu, seluruh pengurus, mulai dari tingkat PAC, ranting, hingga komisariat, perlu mengubah cara pandang terhadap kaderisasi. Tugas mereka bukan berhenti sebagai penyelenggara kegiatan, tetapi menjadi pendamping yang hadir ketika kader membutuhkan arahan, motivasi, maupun kepercayaan untuk mengambil peran.
Pada akhirnya, masa depan IPNU dan IPPNU tidak ditentukan oleh seberapa sering MAKESTA diselenggarakan, melainkan oleh kesungguhan organisasi dalam merawat setiap kader yang telah memilih untuk berproses di dalamnya. Sebab kader yang dipelihara dengan baik akan melahirkan regenerasi yang kuat, sementara kader yang dibiarkan berjalan sendiri perlahan akan kehilangan alasan untuk tetap bertahan.
Oleh: Muhammad Rizky – Penulis adalah Kader IPNU Kecamatan Plered



Tinggalkan Balasan