Gempa M 6,7 Guncang Palu: Pengamat Teknik Sipil Sebut Retakan Jembatan Palu III Belum Tentu Kerusakan Struktur

|

GUGAH – Di tengah beredarnya foto yang memperlihatkan dugaan retakan pada Jembatan Palu III usai gempa, sejumlah kalangan mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa jembatan mengalami kerusakan struktural.

Dosen Teknik Sipil Universitas Tadulako, Alamsyah Palenga, menjelaskan bahwa berdasarkan foto yang beredar, bagian yang tampak retak kemungkinan merupakan zona pertemuan antara pelat jembatan dan pelat injak (approach slab), yang sejak awal memang dirancang tidak menyatu secara monolit.

“Kalau keretakan jembatan dinilai hanya dari foto ini, menurut saya itu belum tentu retak struktur. Zona tersebut memang merupakan sambungan antara pelat jembatan dan pelat injak yang secara desain dibuat terpisah,” ujar Alamsyah dalam keterangan tertulisya, Selasa (16/6).

Menurutnya, saat proses pengaspalan, lapisan aspal biasanya menutupi sambungan tersebut sehingga tampak menyatu. Ketika terjadi gempa, lapisan aspal dapat mengalami retak mengikuti celah sambungan yang memang sudah dirancang ada sejak awal.

Baca Juga:  Wali Kota Bekasi Berangkat Haji Reguler, Apresiasi Pelayanan Embarkasi Bekasi

“Yang kemungkinan retak adalah lapisan aspal di atas sambungan itu, bukan struktur jembatannya. Saya berharap memang demikian sehingga setelah pemeriksaan dinyatakan aman dan jembatan bisa kembali difungsikan,” katanya.

Alamsyah menilai langkah pemerintah menutup sementara akses Jembatan Palu III sudah tepat sebagai bentuk mitigasi risiko. Menurutnya, sebelum kembali dibuka untuk umum, kondisi jembatan harus diperiksa secara menyeluruh oleh tim ahli struktur atau structural forensic engineer.

“Penutupan sementara merupakan tindakan yang benar. Struktur harus diperiksa lebih dulu untuk memastikan apakah benar-benar aman atau justru mengalami kerusakan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa jembatan pada dasarnya memang dirancang memiliki tingkat fleksibilitas tertentu agar mampu mengakomodasi pemuaian akibat perubahan suhu maupun lendutan ketika menerima beban kendaraan dan guncangan gempa.

Baca Juga:  Perkuat Ideologi Aswaja, PC GP Ansor Sumedang Sukses Gelar Roadshow Perdana di Situraja

“Kalau memang hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan tidak ada kerusakan struktural, justru retakan pada lapisan sambungan itu menandakan desain jembatan bekerja sebagaimana mestinya,” pungkasnya.

Meski demikian, hingga kini pemerintah bersama instansi teknis masih melakukan inspeksi menyeluruh terhadap kondisi Jembatan Palu III. Hasil pemeriksaan resmi akan menjadi dasar penentuan apakah jembatan dapat kembali dioperasikan atau memerlukan perbaikan lebih lanjut.

Diberitakan sebelumnya, Pengamat BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Hendrik, menjelaskan gempa berasal dari aktivitas sesar aktif yang berada di daratan.

“Hasil analisis menunjukkan gempa ini merupakan gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan geser turun atau oblik normal,” ujarnya.

BMKG mencatat episentrum gempa berada pada koordinat 1,13 Lintang Selatan dan 120,23 Bujur Timur, sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, dengan kedalaman hanya 10 kilometer.

Baca Juga:  HMI FEBI UIN Bandung Lantik Kader Baru, Teguhkan Tradisi Intelektual dan Pengabdian

Karena pusat gempa berada di daratan, energi gempa tidak memicu deformasi dasar laut yang berpotensi menghasilkan tsunami.

“Tidak ada potensi tsunami karena pusat gempa berada di darat,” tegas Hendrik.

Berdasarkan peta guncangan BMKG (shakemap), intensitas gempa mencapai:

  • VI–VII MMI di Kota Palu, Palolo, Torue, Parigi Selatan, dan sebagian Kabupaten Sigi, di mana kerusakan ringan hingga sedang berpotensi terjadi.
  • V–VI MMI di Sigi Biromaru.
  • IV–V MMI di Donggala, Poso, dan Pasangkayu.
  • III MMI hingga II–III MMI dirasakan di Mamuju, Polewali Mandar, Mamasa, Parepare, Pinrang, Pohuwato, Boalemo, Gorontalo, Gorontalo Utara, hingga Luwu Utara.

Skala tersebut menunjukkan getaran cukup kuat untuk menggoyangkan bangunan, menjatuhkan benda-benda di dalam rumah, bahkan menyebabkan kerusakan pada bangunan yang tidak dirancang tahan gempa.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran