Makam Kuno Muncul di Waduk Gajah Mungkur, Jejak 51 Desa Tenggelam Kembali Terlihat Saat Kemarau

|

GUGAH – Surutnya permukaan air Waduk Gajah Mungkur pada musim kemarau kembali membuka lembaran sejarah Kabupaten Wonogiri. Puluhan makam kuno yang selama puluhan tahun berada di dasar waduk kini kembali muncul ke permukaan, menjadi pengingat bahwa kawasan tersebut dahulu merupakan permukiman warga sebelum ditenggelamkan untuk pembangunan bendungan.

Fenomena yang terjadi di Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, ini bukan sekadar pemandangan musiman. Kemunculan makam menjadi bukti nyata perubahan lanskap akibat proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur yang menenggelamkan puluhan desa pada masa lalu.

Menurut warga setempat, makam-makam mulai terlihat dalam beberapa hari terakhir seiring menyusutnya debit air waduk.

“Udah beberapa hari ini kelihatan, karena airnya surut. Tapi ini belum terlihat semua, baru sebagian aja, masih banyak yang di dalam air,” kata Karni, warga Kelurahan Wuryantoro dikutip dari laman Detik Jateng.

Baca Juga:  PSGC Perkenalkan Skuad Liga 2 2026/2027, Kolaborasi dengan Persib Jadi Sorotan

Puluhan makam tampak berdiri di dasar waduk yang mengering. Sebagian masih utuh, sementara lainnya telah terkikis oleh usia dan arus air. Beberapa nisan masih menyisakan ukiran tulisan meski sebagian besar sudah tidak lagi terbaca.

Mayoritas makam diduga menggunakan batu kapur dengan bentuk nisan yang relatif seragam dan ukuran bervariasi, mulai sekitar setengah meter hingga dua meter.

Kemunculan makam kuno setiap musim kemarau selalu menarik perhatian masyarakat. Namun, di balik daya tarik visualnya, terdapat kisah panjang relokasi ribuan warga ketika Waduk Gajah Mungkur dibangun.

Data sejarah mencatat pembangunan waduk tersebut menenggelamkan 51 desa di tujuh kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Lokasi makam yang kini muncul merupakan bekas tempat pemakaman umum sebelum kawasan itu berubah menjadi genangan waduk.

Baca Juga:  Alumni PMII KBB Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Lokal, Dari Petani hingga UMKM

Karena itu, fenomena ini tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang perubahan sosial, sejarah pembangunan, serta jejak kehidupan masyarakat yang pernah menghuni wilayah tersebut.

Camat Wuryantoro, Soemardjono Fadjari, menjelaskan kemunculan makam merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi ketika musim kemarau menyebabkan permukaan air waduk menyusut.

“Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat, tapi ini baru sebagian, karena airnya masih cukup tinggi,” ujarnya.

Menurut Soemardjono, pada tahun-tahun sebelumnya makam biasanya mulai muncul sejak Agustus. Namun pada 2026, penurunan muka air berlangsung lebih lambat sehingga sebagian besar makam baru terlihat pada September.

Baca Juga:  Harga Emas Pegadaian Ambruk Dua Hari Beruntun, Antam dan UBS Kompak Turun Hari Ini

“Biasanya Agustus sudah mulai kelihatan. Tahun ini surutnya agak lambat, sehingga belum semuanya muncul,” katanya.

Meski mulai menarik perhatian publik, jumlah pengunjung yang datang masih terbatas. Warga menyebut sebagian besar orang yang datang ke lokasi merupakan pemancing dan petani, sementara wisatawan hanya beberapa orang yang ingin mengabadikan momen tersebut.

Akses menuju lokasi juga tidak mudah. Pengunjung harus berjalan kaki melintasi dasar waduk yang mengering dengan kondisi tanah yang masih basah dan licin. Karena itu, masyarakat diimbau tetap berhati-hati apabila ingin melihat langsung fenomena makam kuno yang hanya muncul saat musim kemarau.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran