Polemik Memburu Muhammad, LPBKI MUI Dorong Tabayun Sebelum Menilai Isi Buku

|

GUGAH – Pembatalan diskusi sastra mengenai buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani di Bogor menyisakan perdebatan mengenai cara menyikapi karya sastra yang mengangkat tema keagamaan.

Diskusi yang merupakan bagian dari Pekan Sastra Bogor 2026 tersebut sedianya digelar di Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor. Namun, agenda itu akhirnya dibatalkan setelah panitia menerima keberatan dan ancaman dari kelompok yang mengatasnamakan Front Persaudaraan Islam (FPI).

Kelompok tersebut mempersoalkan judul Memburu Muhammad dan tema diskusi yang dianggap berkaitan dengan penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Pihak tersebut juga disebut mengancam akan mengerahkan sekitar 200 orang apabila kegiatan tetap dilaksanakan.

Menanggapi persoalan tersebut, Wakil Sekretaris Lembaga Pentashihan Buku dan Konten Islam (LPBKI) bidang Pentashihan, Roqiyul Ma’arif Syam, meminta semua pihak tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap sebuah karya hanya berdasarkan judul.

Baca Juga:  Pemkab Bogor Percantik Tugu Perbatasan Jawa Barat–Banten di Rumpin, Jalan Rusak 600 Meter Segera Diperbaiki

Menurut Roqiyul, persoalan tersebut semestinya disikapi dengan prinsip tabayun atau klarifikasi.

“Mestinya semua pihak mengedepankan asas tabayun atau klarifikasi. Kita tidak bisa menghakimi sebuah karya hanya dari judulnya saja,” ujar Roqiyul, belum lama ini.

Ia menjelaskan bahwa sebuah karya sastra perlu dibaca secara utuh untuk mengetahui konteks, pesan, serta maksud yang hendak disampaikan penulis.

Menurutnya, judul memang dapat memunculkan persepsi tertentu. Namun, persepsi tersebut seharusnya tidak langsung dijadikan dasar untuk memberikan stigma terhadap sebuah karya.

Roqiyul mengatakan, dalam konteks persoalan buku atau konten yang berkaitan dengan Islam, LPBKI MUI dapat menjadi salah satu ruang untuk melakukan penelaahan dan klarifikasi.

“LPBKI bisa menengahi soal ini karena sudah menjadi tugas kami untuk mereview buku-buku keislaman,” katanya.

Baca Juga:  Kunjungi Pelatihan Barista di Paskopi, Disnakertrans Bidik Peserta Langsung Kerja

Ia menjelaskan bahwa penelaahan terhadap sebuah buku tidak berhenti pada judul. Aspek substansi, konteks, serta keseluruhan isi juga menjadi bagian penting dalam proses penilaian.

“Nanti ada beberapa standar, apakah buku ini layak diterbitkan, layak dibaca, dan tentu saja dari sejak awal aspek judul hingga isi akan kita review,” ujar Roqiyul.

Karena itu, ia berharap persoalan Memburu Muhammad tidak berkembang menjadi stigma terhadap penulis maupun karya tanpa terlebih dahulu memahami isi buku secara menyeluruh.

“Jangan sampai ada stigma duluan sebelum memahami isi buku tersebut,” tegasnya.

Roqiyul menilai Memburu Muhammad perlu ditempatkan dalam konteks karya sastra yang memungkinkan adanya kritik sosial, refleksi keagamaan, dan eksplorasi gagasan.

Berdasarkan sinopsis yang diperolehnya, ia menilai buku tersebut tidak semata-mata berbicara tentang figur Nabi Muhammad, tetapi menghadirkan berbagai cerita dan persoalan mengenai kehidupan keberagamaan.

Baca Juga:  Pemasangan Bendera Merah Putih di Pohon Disorot: Nasionalisme Tak Boleh Berjarak dengan Kepatuhan Hukum

“Yang kami dapatkan ketika mencari sinopsisnya, buku itu justru isinya untuk membangkitkan kesadaran beragama Islam,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, perbedaan tafsir terhadap sebuah karya sebaiknya diselesaikan melalui dialog.

Ia juga menyayangkan apabila ancaman atau intimidasi justru membuat ruang diskusi sastra harus dibatalkan.

“Kalau sudah dihalangi dengan ancaman dan represivitas, akan seperti apa orang-orang kreatif? Mereka bisa menjadi takut,” katanya.

Menurut Roqiyul, masyarakat perlu membangun budaya kritik yang tetap menghormati perbedaan. Keberatan terhadap sebuah karya merupakan hak setiap orang, tetapi penyampaiannya idealnya dilakukan melalui argumentasi dan dialog.

“Kalau memang ada persoalan dalam sebuah buku, mari dibaca, dikaji, kemudian didiskusikan,” pungkasnya.
(Syam Iqna)

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran