Permata Purwakarta Jenguk Nenek Suhaeti: Kepedulian Jadi Harapan Lansia Sebatang Kara

|

GUGAH – Di sebuah rumah sederhana di Desa Bunder, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, seorang perempuan lanjut usia menghabiskan hari-harinya dalam keterbatasan. Namanya Nenek Suhaeti.

Di usia senja, ia hidup sebatang kara, berjuang melawan penyakit yang membuatnya tak lagi mampu berjalan, sementara kebutuhan hidup dan perawatannya bergantung pada belas kasih tetangga.

Kisah Nenek Suhaeti bukan sekadar potret kemiskinan atau persoalan kesehatan.

Ini adalah cermin bahwa masih ada warga yang menghadapi masa tua tanpa pendamping, tanpa akses pelayanan yang memadai, dan nyaris tak terlihat oleh banyak mata.

Kondisi tersebut mengetuk kepedulian Perhimpunan Mahasiswa Purwakarta (Permata) Cabang Purwakarta.

Melalui program ACT Permata (Action Permata), para mahasiswa turun langsung menjenguk sekaligus menyalurkan bantuan kepada Nenek Suhaeti pada Selasa (13/10/2026).

Bagi mereka, bantuan bukan sekadar paket kebutuhan pokok, melainkan bentuk kehadiran kemanusiaan bagi seseorang yang selama ini berjuang sendirian.

Baca Juga:  Kegaduhan Sepihak dan Rusaknya Marwah Pemerintahan

Dipimpin Ketua Permata Cabang Purwakarta, Muhamad Falaq, para pengurus menyaksikan langsung kondisi Nenek Suhaeti yang memprihatinkan.

Selain tidak lagi mampu berjalan akibat kondisi fisik yang terus menurun, ia juga mengalami penyakit kulit yang cukup parah hingga menyebabkan rasa gatal berkepanjangan dan kulit mengelupas.

Dalam kesehariannya, Nenek Suhaeti hanya dapat bertahan berkat kepedulian keluarga Bapak Joni dan warga sekitar yang secara sukarela merawat serta memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Kami datang bukan hanya untuk menyerahkan bantuan, tetapi untuk memastikan bahwa masih ada yang peduli. Melihat Nenek Suhaeti hidup sendiri dalam kondisi sakit seperti ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa masih banyak pekerjaan rumah dalam memastikan para lansia mendapatkan kehidupan yang layak,” ujar Muhamad Falaq dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

Ia menegaskan, mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial yang tidak berhenti di ruang kuliah.

Baca Juga:  Jaringan di Balik Yayasan MBG Purwakarta, Terhubung dengan Eks Pejabat BGN?

Peran sebagai agent of change dan social control harus diwujudkan melalui aksi nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Namun, kisah Nenek Suhaeti juga menghadirkan pelajaran penting tentang arti gotong royong.

Di tengah keterbatasan, keluarga Bapak Joni bersama warga sekitar memilih untuk tidak berpaling.

Mereka merawat, membantu, dan memastikan Nenek Suhaeti tetap memiliki seseorang yang memperhatikannya.

Kepedulian mereka menjadi bukti bahwa solidaritas masyarakat masih hidup, meski tidak selalu mendapat sorotan.

Melalui program ACT Permata, organisasi mahasiswa ini berupaya menjadi jembatan antara masyarakat yang membutuhkan dengan pemerintah, dinas sosial, dinas kesehatan, serta berbagai pihak yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk memberikan penanganan lebih lanjut.

Harapannya, Nenek Suhaeti tidak hanya menerima bantuan sesaat, tetapi juga memperoleh pelayanan kesehatan dan pendampingan yang berkelanjutan.

Muhamad Falaq berharap kisah ini tidak berhenti sebagai berita yang dibaca lalu dilupakan.

Baca Juga:  Dari Rijsttafel ke Meja Makan, Jejak Kolonial Perkedel

“Semoga langkah kecil ini menjadi pemantik kepedulian bersama. Kami mengajak pemerintah daerah, dinas terkait, para dermawan, organisasi sosial, dan seluruh masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi lansia yang hidup sendiri. Tidak seharusnya mereka menjalani masa tua tanpa perhatian dan pelayanan yang layak. Kepedulian adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Kisah Nenek Suhaeti mengingatkan bahwa persoalan kemanusiaan sering kali hadir begitu dekat dengan kehidupan kita.

Mungkin hanya dipisahkan oleh satu kampung, satu jalan, bahkan satu lingkungan. Perbedaannya hanyalah apakah kita memilih untuk melihat, atau memilih untuk bertindak.

Melalui ACT Permata, Permata Cabang Purwakarta menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, menjadi penghubung bagi mereka yang membutuhkan, sekaligus mengajak lebih banyak pihak membangun budaya kepedulian. Sebab, perubahan besar selalu berawal dari keberanian untuk peduli pada satu kehidupan.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran