Manggis Berjuluk Ratu Buah, Petani Menanggung Sepi

|

Kulit merah keunguan yang berkilau, daging putih lembut yang manis menyegarkan. Manggis Purwakarta bukan sekadar buah biasa. Ia dijuluki Queen of Fruits, diakui dunia, dan diekspor hingga ke Guangzhou, Shanghai, serta berbagai negara ASEAN.

Dalam dokumen, ini adalah kebanggaan sekaligus potensi emas bagi kesejahteraan rakyat. Namun di kebun-kebun rakyat, kenyataan bercerita lain: semakin lebat buah bergelayut, semakin berat keresahan yang menyelimuti hati petani.

Musim panen raya seharusnya menjadi pesta syukur. Tetapi bagi para penggarap, berkah yang melimpah itu kerap berubah menjadi beban yang memilukan.

Ketika ribuan pohon berbuah serentak, pasar dibanjiri pasokan. Hukum penawaran dan permintaan bekerja tanpa ampun, harga jatuh tajam, sementara daya tawar petani merosot hingga titik terendah.

Baca Juga:  Pseudo-trial and Error PAD Purwakarta 2027: Angka Besar, Dasar Penghitungannya Mana?

Inilah ironi yang berulang tahun demi tahun: buah yang layak dikirim ke negeri seberang, justru tidak bernilai layak di tanah kelahirannya sendiri. Harga yang diterima petani kerap kali tidak sanggup menutupi biaya panen.

Pohon manggis menjulang tinggi, sehingga memetiknya memerlukan keahlian khusus dan tenaga berpengalaman, upah petik, biaya sortir, kemasan, hingga angkut semuanya menuntut biaya tunai.

Ketika hasil penjualan habis hanya untuk menutup ongkos, bahkan terjun ke kerugian, petani dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: membiarkan buah ranum membusuk di pohon, atau memetiknya dan pulang tanpa sepeser pun untung.

Kondisi ini bukan sekadar soal harga yang naik turun. Ia menampakkan kelalaian mendasar dalam tata kelola perkebunan daerah. Pasarnya jelas, komoditasnya bermutu, petaninya banyak dan tekun, namun kesejahteraan belum kunjung menyapa.

Baca Juga:  Kenaikan Yesus Kristus dan Pentingnya Menjaga Toleransi Beragama

Mengapa? Karena perhatian kerap berhenti pada urusan di kebun: pupuk, bibit, perawatan. Padahal, persoalan terbesar justru berada di luar kebun, yaitu; pascapanen, pengolahan, pengemasan, pemasaran, dan pembangunan merek yang kuat.

Belum ada industri pendukung yang memadai di tingkat lokal. Manggis berkualitas tinggi hanya dijual sebagai bahan mentah, lalu dikemas dan diberi nilai tambah di tempat lain.

Rantai yang panjang membuat keuntungan terbagi-bagi hingga menipis di tangan petani yang paling awal mencurahkan keringat. Tanpa perlindungan harga dasar, tanpa penguatan koperasi dan BUMDes, tanpa hilirisasi yang nyata, petani akan terus berdiri di ujung rantai yang paling lemah.

Jika siklus ini dibiarkan berulang, jangan heran jika kelak tangan-tangan muda tak lagi sudi merawat pohon manggis. Generasi penerus akan berpaling, karena mereka menyaksikan sendiri: buah yang manis di lidah orang lain, ternyata pahit di kehidupan mereka sendiri.

Baca Juga:  Masjid Agung yang Kehilangan Keagungannya

Sudah saatnya kehadiran pemerintah bukan sekadar hadir memotong pita panen, melainkan hadir menyelesaikan akar persoalan. Membangun industri pengolahan lokal, memotong rantai pengecer yang merugikan, menjamin harga yang adil, semuanya mendesak dilakukan. Sebab, tidak ada kemegahan nama daerah yang abadi jika penopangnya, para petani, terus hidup dalam kesulitan.

Manggis boleh tetap menjadi ratu buah yang dipuja dunia. Tetapi ratu yang sejati adalah ketika mereka yang merawatnya, juga hidup bermartabat dan sejahtera di tanah sendiri.

Oleh: Redaksi

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran