Jelang Muktamar ke-35, Kader NU Jabar Hidupkan Tradisi Diskusi dan Dialektika Pemikiran

BANDUNG – Menyambut gelaran Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sekitar 50 kader dari berbagai Badan Otonom (Banom) NU se-Jawa Barat berkumpul dalam “Serial Diskusi Menyambut Muktamar NU ke-35” yang digelar di Gedung PWNU Jabar pada Rabu (20/5/2026).

Forum ini sengaja diinisiasi sebagai bagian dari upaya menghidupkan kembali tradisi diskusi, adu argumen, dan dialektika pemikiran yang dinilai mulai meredup di tubuh jamiah. Hadir sebagai pemantik diskusi, Ketua PBNU Mohammad Syafi’i Alielha atau Gus Savic Ali dan Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat Dindin C. Nurdin.

Kedua narasumber sepakat bahwa momentum menjelang Muktamar tidak boleh hanya diisi oleh lobi-lobi pasif, melainkan harus dikembalikan pada khitah NU sebagai organisasi pergerakan yang hidup dari ruang-ruang diskusi kritis.

Baca Juga:  Pendaki Asal Bandung Tersesat di Gunung Puntang, Tim SAR Gabungan Gelar Operasi Pencarian

Gus Savic Ali menegaskan bahwa secara historis, NU sejak zaman kemerdekaan sangat terbiasa dengan dinamika diskusi yang intens. Tradisi lisan dan tukar pikiran itulah yang menjadi motor penggerak (muharik) organisasi di masa awal berdiri.

“Kita harus keluar dari sekat-sekat kepentingan kelompok. Dari dulu, kader-kader NU itu terbiasa berdiskusi, bukan hanya mendengarkan. Bahkan di era awal, dinamika Muktamar itu berjalan sangat intens karena dihidupkan oleh diskusi-diskusi organisasi yang dinamis. Budaya diskusi seperti ini yang harus terus kita rawat dan jangkau ke berbagai daerah,” ujar Savic Ali di hadapan puluhan kader banom.

Baca Juga:  Kapolres Sukabumi Pimpin Sertijab Pejabat Utama, AKBP Samian Tuntut Personel Jaga Integritas

Ruang Pematangan Gagasan, Bukan Sekadar Prosedural

Senada dengan Gus Savic, Wakil Sekretaris PWNU Jabar Dindin C. Nurdin mengungkapkan bahwa esensi dari sebuah organisasi pergerakan adalah adanya kohesivitas pemikiran. Ia menilai, menghidupkan kembali ruang diskusi menjelang Muktamar adalah langkah krusial agar keputusan organisasi lahir dari pemikiran yang matang, bukan sekadar pemenuhan prosedur formalitas.

“Konflik atau perbedaan di NU itu aslinya adalah konflik pemikiran, cara bagaimana mengenai gagasan-gagasan itu muncul. Maka dari itu, ruang seperti ini adalah tempat kita melakukan pembicaraan, perdebatan, pemasakan, sekaligus pematangan gagasan bersama. Kita tidak bisa membangun peradaban organisasi kalau lembaganya hanya berbanding lurus dengan prosedur tanpa ada isi pemikiran yang koheren,” urai Dindin.

Baca Juga:  Aksi Kamisan Desak Pemerintah Benahi Keselamatan, Doa dan Tabur Bunga Digelar di Bekasi Timur

Kehadiran 50 peserta dari lintas Banom seperti GP Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, hingga PMII membuat atmosfer forum berlangsung hidup. Sesi dialog pasca-pemaparan materi dimanfaatkan oleh para kader muda untuk saling melempar argumen, mengkritisi arah program kerja kelembagaan, hingga merumuskan catatan rekomendasi dari akar rumput.

Melalui forum non-seremonial ini, para kader muda NU Jabar berharap budaya bertukar pikiran dan debat terbuka yang sehat dapat terus masif digalakkan di berbagai tingkatan struktur kepengurusan demi menyambut transisi abad kedua NU yang lebih dinamis dan transparan.***

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran