GUGAH — Sejumlah ulama sepuh Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan keprihatinan atas dinamika yang berkembang menjelang pelaksanaan Muktamar NU. Para Kyai Sepuh menyerukan agar forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut berlangsung dengan menjunjung tinggi akhlak, hati nurani, dan kemandirian organisasi.
Seruan moral itu disampaikan dalam sebuah pertemuan yang dihadiri para ulama sepuh NU. Ulama yang mengikuti pertemuan melalui Zoom antara lain KH Anwar Mansyur, KH Said Aqil, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Kafabih, KH Muhtadi Dimyati, KH Zuhur Zaini, dan KH Zuhri dari Aceh.
Sementara itu, peserta yang hadir secara langsung yakni KH Ali Akbar Marbun, KH Haris Sadaka, KH Nurdin Ishak, KH Ubang Maimun, dan KH Muhib.
Salah satu tokoh yang menyampaikan pandangan tersebut, KH Ma’ruf Amin, mengatakan pertemuan digelar karena muncul sejumlah isu yang dinilai mengkhawatirkan menjelang muktamar.
“Pertemuan ini didorong oleh rasa keprihatinan adanya dinamika yang berkembang menjelang muktamar,” kata Ma’ruf dikutip dari TVNU, Kamis (20/8/2026).
Menurut Kyai Ma’ruf, keprihatinan tersebut terutama berkaitan dengan munculnya dugaan cara-cara yang tidak terpuji dalam proses menuju pelaksanaan muktamar.
“Jangan sampai muktamar dicederai dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan akhlaknya para ulama,” ujarnya.
Soroti Proses Pemilihan Rais Aam
Salah satu hal yang menjadi perhatian para ulama adalah mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), yakni representasi ulama yang memiliki peran dalam memilih Rais Aam PBNU.
Kyai Ma’ruf menekankan, proses tersebut semestinya berjalan berdasarkan hati nurani dan pertimbangan keulamaan, bukan karena tekanan atau kepentingan pihak tertentu.
“Ahwa itu adalah representasi para ulama untuk memilih Rais Aam. Yang lahir mestinya dari suara hati nurani,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar proses muktamar tidak dipengaruhi oleh pihak-pihak di luar kepentingan internal NU.
Salah satu isu yang disebutnya adalah kemungkinan adanya pengaruh dari pihak eksternal, termasuk anggapan mengenai restu dari lingkungan istana.
“Jangan sampai ada muktamar yang diwarnai atau dipengaruhi pihak-pihak tertentu. Restu istana misalnya,” kata Kyai Ma’ruf.
Namun, ia menegaskan keyakinannya bahwa pemerintah tidak akan mencampuri proses internal NU. Menurutnya, penyelesaian berbagai dinamika yang muncul seharusnya ditempuh melalui mekanisme internal dan semangat islah.
“Saya yakin mereka tidak mempertaruhkan hal itu. Karena selama ini mereka tidak ikut campur. Penyelesaiannya melalui islah di internal,” ujarnya.
Seruan Moral untuk Menjaga Marwah Muktamar
Para ulama sepuh NU kemudian menyerukan agar seluruh pihak yang terlibat dalam proses menuju muktamar mengedepankan persaudaraan, ketenangan, serta nilai-nilai yang menjadi karakter NU.
Kyai Ma’ruf mengatakan, muktamar bukan sekadar arena memilih kepemimpinan, melainkan momentum untuk menjaga marwah organisasi dan keberlanjutan NU.
“Karena itu para ulama kita menyerukan seruan moral supaya berjalan sesuai dengan hati nurani dan sesuai dengan akhlak NU,” katanya.
Seruan tersebut sekaligus menjadi pengingat agar dinamika menjelang muktamar tidak berkembang menjadi konflik terbuka maupun praktik-praktik yang dapat mencederai kepercayaan warga NU terhadap proses organisasi.
Bagi para ulama sepuh, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam organisasi. Namun, seluruh proses harus tetap ditempatkan dalam koridor musyawarah, etika keulamaan, dan kemandirian NU.***



Tinggalkan Balasan