Kayuhan Khidmat Menuju Muktamar

|

GUGAH — Di saat banyak orang memilih berhenti karena usia, Arif Hidayat justru memilih terus mengayuh. Bagi pria 56 tahun yang akrab disapa Mbah Arief, setiap putaran roda sepeda bukan sekadar perjalanan menuju Jombang, melainkan ikhtiar menjaga jejak pengabdian kepada Nahdlatul Ulama.

Berbekal sebuah sepeda dan tekad yang tak lekang oleh usia, Mbah Arief menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Palembang, Sumatra Selatan, menuju Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, untuk menghadiri Muktamar NU 2026.

Perjalanan itu dimulai dari Gedung PWNU Sumatra Selatan pada Rabu (5/8/2026). Enam hari kemudian, Selasa (11/8/2026) malam, ia tiba di Kota Tangerang setelah melintasi berbagai daerah dengan kayuhan yang nyaris tak pernah berhenti.

Di balik perjalanan panjang tersebut tersimpan kegelisahan yang sederhana: jangan sampai usia menghalanginya menyaksikan muktamar berikutnya.

Baca Juga:  Jokowi Dodo: Dari Meme Internet Menjadi Ikon Budaya Populer Digital

“Jujur, di usia saya yang tidak muda lagi, saya takut tidak akan berjumpa lagi dengan muktamar yang akan datang. Momentum ini saya manfaatkan selagi masih diberi kesehatan,” ujar Mbah Arief.

Baginya, perjalanan itu belum sebanding dengan pengorbanan para ulama pendiri NU. Ia meyakini organisasi yang lahir dari perjuangan, darah, air mata, dan doa harus terus dijaga dengan pengabdian, sekecil apa pun bentuknya.

“Perjalanan bersepeda ini belum seberapa dibanding perjuangan para ulama pendiri NU,” katanya.

Di sepanjang perjalanan, Mbah Arief tak pernah benar-benar sendirian. Dari satu daerah ke daerah berikutnya, kader GP Ansor dan Banser bergantian mengawal perjalanannya. Sambutan hangat itu membuat lelah seolah luruh di setiap batas wilayah yang dilaluinya.

Baca Juga:  Jaga Marwah Jam’iyyah, PWNU dan PCNU se-DIY Serukan Tolak Politik Uang di Muktamar NU ke-35

“Keluh kesah rasanya tidak ada. Saya justru terharu karena selalu dikawal secara estafet oleh sahabat-sahabat Ansor dan Banser. Senyum dan dukungan mereka menghilangkan rasa lelah,” tuturnya.

Tak hanya itu, perjalanan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi. Hampir di setiap persinggahan, Mbah Arief menyempatkan diri mengunjungi pondok pesantren, bersua para kiai dan santri, menjadikan perjalanan fisik itu sekaligus perjalanan batin.

Sebagai kader di tingkat akar rumput, ia berharap Muktamar NU 2026 melahirkan kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan dan menghadirkan keteduhan bagi seluruh warga nahdliyin.

“Siapapun yang memimpin NU nanti, saya berharap mampu memegang amanah, mengambil kebijakan dengan bijaksana, dan tidak membingungkan jamaah di bawah. Semoga muktamar membawa kesejukan dan kedamaian,” ujarnya.

Baca Juga:  Kiai Sepuh NU Soroti Penggalangan Dukungan Calon AHWA Jelang Muktamar ke-35

Semangat Mbah Arief mendapat apresiasi dari Sekretaris PC GP Ansor Kota Tangerang, Maftukhul Mujib. Menurutnya, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada ulama dan organisasi tidak selalu diwujudkan lewat pidato atau jabatan, tetapi juga melalui ketulusan dan pengorbanan.

“Mbah Arief mengingatkan kader muda Ansor dan Banser bahwa mengabdi kepada kiai membutuhkan keteguhan hati. Beliau rela menempuh ribuan kilometer demi menghormati Muktamar NU 2026,” kata Mujib.

Usai beristirahat di Kota Tangerang, Mbah Arief dijadwalkan kembali melanjutkan kayuhan menuju Tambakberas, Jombang. Di hadapannya masih terbentang ratusan kilometer jalan. Namun bagi Mbah Arief, tujuan sesungguhnya bukan sekadar sampai di lokasi muktamar, melainkan memastikan semangat khidmat warga NU di akar rumput terus hidup—selama roda masih berputar dan napas masih menyertai langkah.***

gugah.co | Menggerakkan Perubahan

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran