Kemampuan berbicara di depan publik bukan sekadar soal keberanian, tetapi juga kemampuan menyampaikan gagasan yang mampu memengaruhi dan menginspirasi. Kualitas itu mengantarkan Chandra Aditya Nurriefan meraih predikat Duta Pembicara Muda Indonesia 2026, sebuah gelar yang diperoleh melalui seleksi nasional dengan persaingan ketat.
Lahir dari lingkungan pesantren, Chandra membuktikan bahwa latar belakang santri bukanlah batas untuk bersaing di tingkat nasional. Dari lebih dari 1.000 peserta yang mengikuti proses seleksi, ia berhasil menembus tahapan demi tahapan hingga akhirnya dinobatkan sebagai salah satu duta yang dipercaya membawa misi pengembangan literasi komunikasi publik di Indonesia.
Perjalanan menuju gelar tersebut tidak berlangsung singkat. Chandra harus melewati serangkaian seleksi yang menguji kemampuan berpikir, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, hingga keterampilan komunikasi. Dewan juri menilai tidak hanya kualitas retorika, tetapi juga visi, integritas, serta kesiapan peserta menjalankan tugas sebagai representasi generasi muda di berbagai agenda nasional.
Pada tahap wawancara, ia diuji mengenai gagasan, komitmen, dan kesiapannya mengemban amanah sebagai Duta Pembicara Muda Indonesia. Peserta juga diminta menunjukkan kesiapan untuk bertugas di berbagai daerah sebagai bagian dari program nasional yang dijalankan organisasi penyelenggara.
Seleksi berikutnya menguji kemampuan akademik dan pengetahuan umum untuk mengukur keluasan wawasan peserta terhadap isu-isu nasional maupun global. Di tahap utama, kemampuan public speaking menjadi penilaian paling menentukan. Peserta dituntut mampu menyampaikan ide secara sistematis, membangun argumentasi yang kuat, serta menguasai teknik komunikasi di hadapan publik.
Setelah dinyatakan lolos, Chandra mengikuti program karantina virtual selama satu bulan. Dalam program tersebut, para finalis mendapatkan pembekalan intensif dari sejumlah praktisi komunikasi, public speaker, dan tokoh nasional. Materi yang diberikan meliputi teknik berbicara profesional, kepemimpinan, manajemen panggung, hingga penyusunan pesan berbasis data dan riset.
Bagi Chandra, pencapaian tersebut bukan garis akhir. Ia memilih menjadikannya sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Dengan prinsip “tetap merendah dan meroket,” ia berkomitmen untuk terus belajar, meningkatkan kapasitas diri, dan memanfaatkan kemampuan komunikasinya sebagai sarana memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Gelar Duta Pembicara Muda Indonesia 2026 sekaligus melengkapi rekam jejaknya di bidang komunikasi. Sebelumnya, Chandra juga pernah menyandang predikat Duta Prestasi Bidang Public Speaking. Dua capaian nasional tersebut memperlihatkan konsistensinya membangun kompetensi sebagai komunikator muda yang lahir dari tradisi pesantren dan mampu bersaing di level nasional.
Di tengah meningkatnya kebutuhan akan figur muda yang mampu menyampaikan gagasan secara jernih dan bertanggung jawab, kiprah Chandra menjadi bukti bahwa kemampuan komunikasi dapat menjadi instrumen penting dalam membangun kepemimpinan, memperkuat literasi publik, dan mendorong lahirnya perubahan yang berdampak bagi masyarakat.



Tinggalkan Balasan