Teach You a Lesson: Ketika Drama Korea Menjadi Cermin Pendidikan Indonesia

|

Sebuah drama terkadang lebih jujur daripada laporan resmi. Itulah kesan yang muncul setelah menyaksikan Teach You a Lesson. Serial asal Korea Selatan tersebut tidak hanya menyuguhkan konflik di lingkungan sekolah, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang persoalan pendidikan yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia.

Bullying, kekerasan antarpelajar, penyalahgunaan kekuasaan, orang tua yang membela anak meski terbukti bersalah, hingga birokrasi yang lebih sibuk menjaga citra daripada menyelesaikan persoalan menjadi benang merah cerita. Yang menarik, di balik kompleksitas masalah itu, sekolah-sekolah di Korea Selatan tetap ditopang fasilitas yang memadai: ruang kelas bersih, perpustakaan, ruang konseling, UKS, hingga program makan siang bergizi.

Kontras dengan itu, masih banyak sekolah di Indonesia yang bergelut dengan ruang kelas rusak, sanitasi yang kurang layak, laboratorium terbatas, hingga minimnya layanan konseling. Padahal, konstitusi telah mengamanatkan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Besarnya alokasi anggaran belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas fasilitas yang dirasakan peserta didik.

Drama tersebut juga menyoroti persoalan yang kini semakin nyata: memudarnya kewibawaan guru. Dahulu guru menjadi figur yang dihormati. Kini, tidak sedikit guru yang ragu mengambil tindakan disiplin karena khawatir dipersoalkan secara hukum, diviralkan di media sosial, atau mendapat tekanan dari orang tua murid.

Perlindungan hak anak merupakan prinsip yang harus dijaga. Namun dalam praktiknya, guru sering berada dalam posisi dilematis. Ketika bertindak tegas dianggap melanggar hak anak, sedangkan ketika memilih diam justru dinilai gagal menjalankan fungsi pendidikan. Kondisi ini diperparah ketika pelaku kekerasan masih berstatus anak sehingga pendekatan hukum lebih menekankan pembinaan, meski perbuatannya terkadang sudah menyerupai tindak kriminal orang dewasa. Akibatnya, sekolah perlahan kehilangan figur yang mampu menegaskan batas antara benar dan salah.

Baca Juga:  Kurban APBN dan Ilusi Kesejahteraan Rakyat

Di luar persoalan disiplin, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih kompleks. Ancamannya tidak hanya berupa perundungan, tetapi juga judi online, pinjaman online ilegal, narkotika, hingga berbagai bentuk kejahatan digital.

Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menunjukkan perputaran dana judi online sepanjang 2024 mencapai sekitar Rp359,81 triliun. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menutup layanan pinjaman online ilegal dan menerima ribuan pengaduan masyarakat terkait jeratan utang digital. Badan Narkotika Nasional (BNN) pun berulang kali mengingatkan bahwa pelajar menjadi kelompok yang rentan direkrut jaringan peredaran narkoba.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa sekolah tidak lagi cukup hanya mengajarkan mata pelajaran. Pendidikan harus mampu membangun benteng moral agar peserta didik memiliki daya tahan menghadapi berbagai ancaman yang hadir melalui dunia digital.

Di sisi lain, tata kelola pendidikan juga masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Kasus korupsi dana pendidikan, penyalahgunaan bantuan operasional sekolah, proyek pembangunan yang tidak berkualitas, hingga praktik suap dalam berbagai sektor pendidikan masih terus muncul. Pendidikan selalu menjadi prioritas dalam pidato, tetapi implementasinya di lapangan belum sepenuhnya mencerminkan komitmen tersebut.

Baca Juga:  Kegelisahan Dunia Akademik di Tengah Bayang-bayang Militerisasi

Dalam konteks itu, setiap kebijakan pendidikan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), layak terus dievaluasi. Program tersebut tentu memiliki tujuan yang baik dalam meningkatkan kualitas gizi peserta didik. Namun, perhatian terhadap kebutuhan dasar sekolah seperti ruang kelas yang layak, toilet yang bersih, perpustakaan, laboratorium, serta layanan konseling juga tidak boleh terabaikan. Pendidikan tidak hanya membutuhkan anak yang sehat, tetapi juga lingkungan belajar yang manusiawi.

Perbandingan antara Korea Selatan dan Indonesia menghadirkan pelajaran penting. Korea membuktikan bahwa fasilitas yang baik belum tentu menghilangkan persoalan moral di lingkungan sekolah. Sebaliknya, Indonesia menghadapi tantangan yang lebih berat karena harus membangun karakter sekaligus mengejar ketertinggalan infrastruktur pendidikan.

Persoalan lain yang tidak bisa diabaikan adalah kesejahteraan guru. Sulit berharap lahirnya pendidikan yang berkualitas apabila masih banyak guru honorer menerima penghasilan di bawah upah minimum. Dalam kondisi tersebut, guru tetap dituntut menjadi pendidik, pembimbing, konselor, sekaligus teladan moral bagi peserta didik.

Ki Hajar Dewantara telah meletakkan filosofi pendidikan yang hingga kini tetap relevan, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Seorang guru bukan sekadar pengajar, melainkan sosok yang memberi teladan, membangun semangat, dan menguatkan dari belakang.

Baca Juga:  Purwakarta Kampung Halamanku

Pandangan tersebut sejalan dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6 agar setiap orang menjaga diri dan keluarganya dari keburukan. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Sementara Imam Al-Ghazali menempatkan ilmu sebagai jalan menuju amal dan penyucian hati, bukan sekadar sarana memperoleh pengetahuan.

Pada akhirnya, Teach You a Lesson bukan sekadar drama tentang menghukum siswa yang bermasalah. Serial itu mengingatkan bahwa pendidikan akan kehilangan maknanya ketika keteladanan memudar, keadilan melemah, dan moralitas tidak lagi menjadi fondasi utama.

Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan sekolah, kurikulum, maupun anggaran. Tantangan terbesar justru terletak pada keberanian membangun sistem yang jujur, adil, dan berpihak pada kepentingan peserta didik. Selama guru belum memperoleh kewibawaan yang proporsional, orang tua masih menutup mata terhadap kesalahan anak, tata kelola pendidikan belum sepenuhnya bersih, dan pendidikan agama berhenti pada hafalan tanpa pembentukan akhlak, persoalan yang tergambar dalam drama tersebut akan terus berulang di ruang-ruang kelas kita.

Gedung sekolah dapat dibangun dengan anggaran. Namun karakter bangsa hanya dapat dibangun oleh manusia yang lebih dahulu berkarakter.

Anda bisa menyaksikan drama tersebut di Netflix melalui link BERIKUT INI.

Oleh: Ahmad Arip Puad RifaiPenulis adalah Jurnalis Gugah.co

Follow Channel WhatsApp Kami!
Ikuti kami di Google: Google Logo Favoritkan

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran