Nahwu Mengajarkan Ishlahul Kalam, Muktamar Menuntut Ishlahul Jam’iyyah

|

Dalam tradisi ilmu lughah, tujuan ilmu nahwu dan balaghah bukan sekadar menyusun kata, melainkan menjaga agar makna tetap benar, jernih, dan tidak tercemar.

Para ulama balaghah mengingatkan melalui sebuah kaidah:

الْحَذْفُ أَبْلَغُ مِنَ الذِّكْرِ إِذَا دَلَّ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ

“Menghilangkan suatu unsur lebih efektif daripada menyebutkannya, apabila maknanya telah dipahami melalui petunjuk yang ada.”

Kaidah ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Tidak semua yang ada harus dipertahankan. Ada kalanya sesuatu perlu disingkirkan agar makna tetap utuh, susunan tetap indah, dan tujuan tidak bergeser dari hakikatnya.

Baca Juga:  Apakah Ini Sudah Benar Cara Mengurus Negara?

Demikian pula Nahdlatul Ulama. Jam’iyyah ini dibangun oleh para muassis di atas fondasi keikhlasan, keilmuan, ukhuwah, musyawarah, dan kemaslahatan. Nilai-nilai itulah yang harus terus dijaga dan dipertahankan.

Sebaliknya, setiap sikap dan perilaku yang mengikis adab bermusyawarah, melemahkan ukhuwah, atau menjauhkan organisasi dari kemaslahatan bersama, patut dikoreksi melalui mekanisme jam’iyyah yang arif, bijaksana, dan sesuai dengan aturan organisasi.

Baca Juga:  Sebuah Fiksi: Negeri Arkapura dan Kursi-Kursi yang Bergeser

Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 semestinya menjadi momentum ishlahul jam’iyyah, yaitu ikhtiar bersama untuk memperbaiki kehidupan organisasi sekaligus membersihkannya dari berbagai praktik yang dapat mengurangi marwah jam’iyyah.

Sebagaimana ilmu nahwu menjaga kemurnian susunan kalimat dan ilmu balaghah menjaga kemuliaan maknanya, demikian pula Muktamar hendaknya menjadi ruang untuk menjaga kemurnian cita-cita Nahdlatul Ulama agar tetap berada pada rel perjuangan para pendirinya.

Baca Juga:  PBNU Instruksikan Munajat dan Riyadhoh Jelang Muktamar ke-35 NU

Sebab, jam’iyyah yang besar tidak hanya membutuhkan regenerasi kepemimpinan, tetapi juga peneguhan komitmen terhadap Qanun Asasi, Khittah Nahdlatul Ulama, serta amanat luhur para muassis.

Nahwu berbicara tentang ketepatan susunan. Muktamar berbicara tentang ketepatan arah perjuangan. Keduanya sama-sama mengajarkan bahwa menjaga esensi jauh lebih penting daripada sekadar mempertahankan bentuk.

Salam. Nahwu Berbicara, Muktamar Bekerja.

Oleh: H. Dien At-Tasiki Penulis adalah Pengurus PWNU Jawa Barat

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending

Suara Pinggiran